Archive for November, 2007

Kecengan Baru

Saturday, November 24th, 2007

Rencananya sabtu siang ini mau ngerjain tugas yang deadline-nya hari senin besok, tapi karena masih nunggu “master” dari temen, jadi ngerjain yang lain dulu aja lah… tapi ngerjain apa ya? Kalo sebelum2nya selama S2, kalo S1 mah jangan ditanya, belum pernah pake master buat ngerjain PR, tapi berhubung kemarin2 nyoba ngerjain dan nggak bisa2, yah… apah boleh buah deh… terpaksa pake master. Hmmm… weekend gini enaknya sih jalan2. Oke, diputuskan… jalan2! dan tempat yang ingin dihinggapi adalah toko sepeda di sekitar jalan Roosevelt. Aneh kan… di Taipei gini ada nama jalan pakai nama orang Inggris. Sebenernya sih ada juga nama Cina-nya, tapi ya daripada yang mana saya tidaktahunya.

Jadilah saya ke toko itu dengan maksud lihat2 sepeda, dan kalo ada yang cocok, langsung beli. Sampai di sana… eng ing enghen gui a*… muahal buanget harganya. Harus nunggu beasiswa 4 bulan kali buat bisa beli tuh sepeda. Ya sudah lah, mungkin belom jodohnya, ngibrit aja keluar toko. Secara hari sudah mulai sore dan saya belom makan siang, pergi lah saya ke kantin di dekat library NTU. Di sana lauk serta sayurnya bisa milih2 sendiri, jadi bisa kira2 mana yang haram dan yang halal. Di tengah perjalanan ke sana, ternyata di boulevard-nya NTU ada semacam bazar makanan. Pengen coba sih beberapa, tapi aroma yang dikeluarkan makanan2 itu menghilangkan selera makan. Nggak jadi beli deh, akhirnya. Tapi lumayan lah, lewat situ jadi dapet snack gratisan.

Ternyata nggak cuma sekali itu aja saya dapet gratisan. Di salah satu kedai teh yang ada di kantin menawarkan program beli 1 dapet 2. Sebenernya saya juga nggak tau program itu, karena iklannya pun dalam bahasa mandarin. Saya bingung aja waktu beli teh susu, kok dikasihnya 2 gelas. Ya, yang namanya rejeki emang nggak bakal ke mana. Jalan2 pun kemudian berlanjut ke toko sepeda yang pernah saya kunjungi, yaitu di persimpangan jalan dari kampus.

Dekat dari persimpangan itu, ada sebuah kafe yang sudah sangat terkenal seantero jagat, Starbucks. Jadi inget YM-an sama temen tentang Starbucks sama warkop. Sama2 jual kopi, tapi nasib pemiliknya beda jauh. Ada yang aneh sama starbucks dekat kampus ini, saya bertanya dalam hati “ini kafe atau library?” Kok semua yang di dalem pada baca buku…? atau ada juga yang berdiskusi… dan ada juga yang entah bekerja atau belajar dengan laptop yang dibawanya. Seperti terjadi perubahan fungsi pada kafe ini. Kafe biasanya digunakan sebagai tempat ngobrol, kumpul2, atau sekedar makan dan minum. Tapi di sini… minum dan makan adalah teman untuk belajar atau membaca. Ya, memang lagi musim hujan dan ujian sih… mungkin enak kali ya kalo minum kopi sambil belajar… kaya’nya perlu dicoba nih kapan2…

Tidak jauh dari situ, sampailah saya di toko sepeda. Lihat2 sebentar dan sepertinya ketemu nih yang modelnya cucok dengan eike. Kebetulan yang jaga xiao jie (nona), dengan sedikit senyuman dan bahasa mandarin sebisanya, saya tawar harganya biar agak dimurahin. Nggak tau karena senyuman saya atau memang harga yang seharusnya bisa lebih murah, dia langsung hao le hao le** aja. Walaupun emang kalah kece sama sepedaku yang dulu, tapi lumayan lah kecenganku yang sekarang, seenggaknya lebih murah dari yang dulu. Kapok beli mahal2.

Sampai di dorm, keinginan ngerjain PR mulai timbul. Eh… lagi2 ada godaan. Temenku ngajak ke NTUST buat nonton pertandingan badminton. Di sana lagi ada kejuaraan antar universitas untuk para mahasiswa asing di Taiwan. Kebetulan sampai sana kampus saya sudah mencapai babak final. Untungnya belum mulai, jadi masih bisa nonton. You know what… Walaupun Indonesia lagi loyo di pentas dunia bulutangkis, tapi di sini Indonesia masih berjaya. Terbukti dengan all Indonesian final di ganda putra (NTUST vs NTU), yang akhirnya dimenangi oleh Pak Yani dan Mas Yanto dari NTU, dan ganda campuran yang juga dimenangi oleh mahasiswa Indonesia dari NTUST, Onggo dan …(sori, nggak tau namanya). Memang bukan membawa nama negara, melainkan nama kampus, tapi cukup membanggakan juga buat saya sebagai orang Indonesia. Kalo saja ada kejuaraan TENIS, saya pasti harus IKUT!!!

Maap belum didekor dengan foto2 sebagai bukti otentik, tapi akan saya update as soon as possible. Master PR sudah di tangan, saatnya megerjakan PR. Selasa dan Jumat minggu ini, serta Rabu minggu depan, adalah saatnya menghadapi the real challenge, mid-term exams. Kemungkinan mulai besok bakal vakum ngeblog-either walking & writing, YM-an, facebooking, dan mengunjungi milis el02 sampai tanggal 5 Desember. Karena kalo sudah berhadapan dengan barang2 itu, yang ada bukannya malah belajar… :P

*****

* hen gui = sangat mahal
** hao le = oke lah…

Facebooking

Sunday, November 18th, 2007

Apakah kamu pernah ditampar sama teman baikmu? atau bahkan dicium sama pacar? atau dikasih hadiah waktu ulang tahun? Beberapa akan menjawab pernah, dan lainnya pasti menjawab belum. Dan semua kelakuan tersebut tentunya dilakukan di saat kalian sedang berada di satu tempat yang sama. Tapi kalo kamu udah kebelet pengen nendang atau nampar temenmu itu karena udah saking keselnya dan nggak berani kalo langsung face to face… atau pengen ngasih hadiah ke seseorang tapi dia-nya jauh di sana… tenang… semua ada solusinya…

Setahun Yang Lalu…

Thursday, November 15th, 2007

Postingan ini adalah repost dari setahun yang lalu di blog saya yang lain. Saya publish kembali dengan tujuan me-recharge energi saya yang hilang. Ya… energi untuk menjadi seperti Beliau, walaupun tidak akan pernah sama seperti Beliau. Energi untuk meneruskan cita2 Beliau, even though it must be hard to fulfill. He was my Grand Teacher. The teacher of my previous supervisor when I was in STEI-ITB, Pak Irman Idris. Ketika saya masih asyik2nya nge-lab di PAU buat ngerjain skripsi, setahun yang lalu di tanggal yang sama dengan hari ini di tempat lain, telah pergi Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih…

Aku/Saya/Gua/Gue/Gw

Saturday, November 10th, 2007

Aku/Saya/Gua/Gue/Gw, sampai sekarang saya masih bingung pakai yang mana kalo mau nulis di blog ini. Bukan apa2, cuma kok bacanya agak janggal aja. Kata “aku” misalnya, ketika dipakai sebagai kata ganti orang pertama tunggal (pelajaran SD banget…) rasanya terlalu kaku. Kalo pakai kata “saya”, hmmm… kurang luwes dan kesannya terlalu formal. Pakai kata “gua” atau “gue” (“gw” merupakan gaya penulisan “gue” yang lain), sense-nya nggak enak ah kalau dibaca sama orang2 yang lebih tua. Kaya’ banyak yang baca aja…

Kalau seandainya kata2 tersebut dikastakan menjadi 3 bagian di mana tingkat tertinggi (3) adalah paling formal, dan tingkat paling bawah (1) adalah gaya bahasa yang non-formal, maka aku akan memasukkan kata “aku” dan “saya” ke level 3, sedangkan “gua” dan “gue”, masuk ke level 1. Terus ke mana level 2? Buat gua, no options suitable for level 2.

Terus terang, Philips terang terus, gue lebih suka dengan bahasa Inggris yang hanya punya dua jenis kata sebagai kata ganti orang pertama yaitu, “I” dan “me”. Dan 2 kata itu sudah punya fungsinya masing2 dalam sebuah kalimat yang tidak mungkin bisa di-tukar2. Jadi mau formal ataupun non-formal, semua bisa dicover dengan “I” or “me”. Ini lah yang paling cocok untuk masuk ke level 2 dalam kasta yang saya bikin di paragraf sebelumnya.

Diversity, keanekaragaman suku dan budaya memang membuat bangsa Indonesia kaya dalam bahasa. Dan secara tidak terasa, ada bahasa2 daerah yang masuk mempengaruhi sense dalam berbahasa sehari-hari. Seperti “gua” dan “gue” yang sudah menjadi bahasa resmi warga Jakarta, meskipun kebanyakan dari mereka bukan orang Betawi. Kata tersebut juga menjadi pilihan untuk para remaja baik di sekolah maupun di kampus dalam pergaulan sehari-hari. Ya, karena pergaulan tidak butuh bahasa resmi yang kaku.

So, mungkin kita perlu mengadaptasi bahasa (daerah atau negara) lain untuk bisa menempati kasta level 2 untuk kata ganti orang pertama tunggal. Seperti “awak” misalnya…

Win and Lin

Saturday, November 3rd, 2007

Pakai yang mana ya enaknya? Pakai Windows atau Linux? Hmmm… lagi-lagi tulisan tentang banding-bandingin 2 Sistem Operasi yang banyak dipakai orang. Tapi tulisan yang ini beda dengan tulisan2 sejenis lainnya lho. Ya, tentu saja… karena tulisan ini adalah versi 5414 (baca : SAYA). Jadi semua yang tertulis di sini berdasarkan IMHO (In My Humble Opinion). Before we go forward, let me introduce you the latest look of my laptop. Bill with Tux-shirt, and inspiring words; nemu dari sini.

Ubuntu 7.10 aka Gutsy Gibbon, OS itulah yang saya pakai sekarang, di samping Windows XP tentunya. Sebenernya waktu sampai di Taiwan saya pakai Ubuntu 7.04, setelah entah dengan alasan apa saya hapus WinXP yang pakai lisensi kampus (Bandung). Beberapa minggu setelahnya tiba2 saya merasa ada yang salah dengan Ubuntu di laptop ini. Maka saya beralih ke PCLinuxOS. Setelah install segala macam untuk mencapai tingkat ke-pewe-an yang nyaman untuk berkomputer ria, akhirnya OS itulah yang saya gunakan selama beberapa minggu. Ya, hanya bertahan beberapa minggu.

Karena ternyata di kampus yang baru ini juga menyediakan lisensi gratis untuk Windows, baik itu XP maupun Vista, dan ada pula Microsoft Office-nya, untuk seri Office XP dan Office 2007. Yah, karena hardware nggak mendukung, jadinya saya install WinXP dan Office XP saja. Seandainya saja hardwarenya mendukung, maka pilihannya tentu Vista + Office 2007. Kenapa? Kenapa balik lagi ke Windows?

IMO, its feel like go back home. Ya, rasanya seperti pulang kampung. Habis gimana lagi? Lha wong dari kecil belajar komputernya pakai OS itu. Analoginya, Windows adalah negeri asal di mana seseorang lahir dan dibesarkan. Sedangkan Linux adalah negeri asing tempat untuk menuntut ilmu atau mencari nafkah. Di negeri perantauan, mau nggak mau, suka tidak suka, kita harus bisa beradaptasi untuk bisa survive. Mungkin suatu saat orang itu akan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya dan menjadikannya sebagai rumah kedua. Tapi rasanya tidak semua orang bisa melakukannya sampai tahap seperti itu. Adalah naluri manusia yang menginginkan untuk kembali ke rumahnya, di kampungnya. Di rumah sendiri, kita bisa makan apa saja yang kita suka. Daging, ayam, ikan, lengkap dengan sayur serta buah2an, semuanya bisa disediakan atau diusahakan. Sedangkan di negeri orang, tidak semua bisa diusahakan, atau bisa diusahakan, tapi akan lebih susah untuk mendapatkannya.

Demikian juga Windows dan Linux. Ketika memakai Windows, butuh apa2 tinggal install. Kalaupun ada hardware yang baru dan tidak dikenali, tinggal google, donlot, dan install. Namun tentunya kita harus tahu mana yang langsung bisa dipakai dan mana yang harus bayar dulu. Sedangkan di Linux, persoalannya tidak semudah itu. Dari cara nginstall aja banyak macemnya. Ada .tar, .tar.gz, .rpm, apt-get install, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau ada masalah hardware, repotnya bukan main. Pengalaman aneh saya dapatkan waktu selesai nginstall Ubuntu 7.10 yang akan saya gunakan sebagai sandingan Windows XP. Ubuntu saya nggak bisa terhubung ke network asrama. Icon di toolbar mengindikasikan network sudah terhubung tapi nggak bisa dapet IP via DHCP. Utak-atik network tools beserta properties2nya sambil restart2 juga nggak menyelesaikan masalah. Atau hardwarenya? Ternyata nggak juga, karena hardware profile sudah ngenalin kok, kelihatan dari statusnya. Karena nggak bisa2 konek juga ke internet, akhirnya saya balik lagi ke Windows untuk menelusuri masalahnya di internet. Setelah mendapatkan beberapa pencerahan, saya balik lagi ke Ubuntu. Bukan sulap bukan sihir, begitu booting selesai, tanpa di-apa2in tiba2 koneksi network bisa dipakai. Dicek propertiesnya, ternyata langsung ada settingan IP, dll. Aneh bin ajaib memang…

Kesimpulannya, saya nggak prefer ke Windows ataupun Linux. Saya pakai yang murah dan mudah. Murah, se-murah2nya dan kalau bisa gratis. Mudah, tentu dong… siapa sih yang mau susah? Tapi nggak menutup kemungkinan untuk menggunakan yang mahal dan mudah, murah dan susah, ataupun mahal dan susah (loh, kok nggak konsisten gini ya?) Yo wis lah, gue pake semau gue aje…

*****

Homesick Mode : ON