Archive for September, 2007

Kuliah Lagi

Saturday, September 29th, 2007

Cukup lama juga kepala ini nggak diisi sama wejangan2 dosen. Kalo dihitung-hitung, kira2 terakhir kali kuliah itu sudah 8 bulan yang lalu. Semoga saja otak ini masih mau diajak berkompromi buat menampung ilmu, nasehat, dan pengalaman dari para dosen. Tapi kali ini cerebrum-ku harus bekerja 2 kali lipat karena di samping mencerna perkataan para dosen, dia juga bertugas men-translate-nya.

Karena baru 2 kelas yang aku masuki, jadi sharingnya juga membahas 2 kelas itu saja ya. Satu kelas lagi belum pernah masuk karena selalu terbentur liburan, di minggu pertama diliburkan pemerintah karena ada badai, sedangkan minggu kedua libur karena ada peringatan Moon Festival.

Kelas yang pertama adalah kelas Wide-gap Semiconductor Technology. Kaya’nya saya nggak perlu berpanjang lebar menjelaskan isi kuliah ini, atau mungkin secuil saja, yaitu membahas tentang teori LED alias Light Emitting Diode. Pengajarnya adalah Pak Zhe-Chuan Feng. Sedangkan kelas yang kedua adalah VLSI Design Automation. Dari judulnya saja sudah kelihatan kalo kuliah ini adalah mengenai perancangan, dan yang dititikberatkan dalam kuliah ini adalah perancangan chip yang fungsinya spesifik. Kelas ini diajar oleh Pak Charlie Chen. Buat lihat wajah Bapak2 itu, silakan klik di sini.

Banyak perbedaan antara kuliah di sini dan kuliah di Bandung? Tapi yang paling mencolok sejauh yang saya amati sampai saat ini baru ada 2 poin yaitu, budaya dan fasilitas. Mungkin untuk fasilitas kita bisa memaklumi lah ya… secara pendidikan di Indonesia masih dianaktirikan oleh pemerintah. Terlalu jauh untuk dibandingkan dengan negara yang menguasai 80% permintaan LED dunia -mengutip kuliah dari prof. Feng yang dengan bangganya menceritakan itu-. Supaya lebih percaya maka kapan2 akan saya ajak lihat2 ke dalam kampus yang katanya paling ngetop di Taiwan ini. Tapi berhubung belom ada alat dokumentasi yang mendukung jadi jalan2nya ditunda dulu.

Untuk masalah budaya, mungkin saya fokuskan ke budaya mengajar para dosen saja. Disiplin, masuk teng keluar teng. Rabu kemarin di kelas wide-gap, seorang anak lokal disuruh meminta maaf kepada semua peserta kuliah oleh sang dosen karena terlambat menyiapkan laptop untuk kuliah. Sedangkan kemarin prof. Chen mengajar 3 jam bablas terus tanpa istirahat -kalo ini harusnya kena sangsi karena nggak disiplin, seharusnya ada waktu istirahat untuk tiap2 50 menit waktu kuliah-. Ya, beliau berdiri 3 jam di depan mimbar kecil tempat menaruh laptop-nya dan sekaleng Pep** cola sambil mendongengkan kita cerita2 seputar teknologi IC hingga kita terkantuk-kantuk. Dan akhirnya homework pertama pun diberikan, describe your own law for the future! It is weird, isn’t it? Yah, ide itu muncul ketika membahas Hukum Moore. Menurut dia, kesuksesan Intel dalam bisnis mikroprosesor adalah karena mereka mengikuti hukum Moore tersebut. Jadi intinya, hukum itu eksis karena ada yang mengikuti, dan bukan sebaliknya.

Pesan moral. Prof. Feng di minggu lalu mengatakan bahwa teknologi semikonduktor yang mereka (Taiwanese, red.) miliki merupakan salah satu kunci majunya perekonomian di negara itu. As I said before, he said that with pride. Kemudian beliau berkata kepada 2 orang asing yang berasal dari Indonesia yang ada di kelas itu (my friend and I) untuk dapat mengembangkan teknologi tersebut setelah kembali ke negaranya -saya nggak tau ini menyindir atau benar2 menyemangati-. Berbeda dengan prof. Chen yang mengklaim bahwa bangsanya adalah bangsa paling pekerja keras sedunia, dan kemudian para foreigner pun disindir dengan mengatakan bahwa kalian di sini untuk menderita. Again, he said that with pride.

Kesimpulan : Banggalah dengan bangsamu sendiri. Have we?

Buka Puasa di Masjid Agung Taipei

Monday, September 17th, 2007

Perhatian : Penulis tidak bertanggungjawab (jika) batalnya puasa Anda setalah membaca tulisan ini.

Suasana bulan Ramadhan di Taipei mungkin tidak seberasa seperti waktu di Indonesia, maklum saja karena masih banyak dijumpai orang2 yang makan dan minum di depan umum, atau lebih tepatnya, di depan saya. Yeah, itung2 nambah godaan dan ujian, dan semoga yang berpuasa diberikan pahala yang lebih, Amin. Syukur kehadirat-Nya karena kebetulan dorm tempat saya tinggal cukup dekat dengan Masjid, namanya Taipei Grand Mosque, atau kalau dibahasaIndonesiakan menjadi Masjid Agung Taipei. (Saya lebih suka nama yang dalam bahasa Indonesia karena tidak suka dengan penyebutan mosque untuk masjid dalam bahasa Inggris yang terkesan mirip dengan mosquito alias lalat nyamuk.)

Bagi mahasiswa rantau seperti saya yang susah nyari makanan halal di negeri non-muslim, kata2 buka puasa gratis seperti menjadi oase di tengah hamparan padang pasir tandus yang hanya ditumbuhi pohon kaktus dan tidak mungkin ada soto Kudus ataupun daging kambing alias wedus, berlebihan gak sih? Di malam pertama bulan Ramadhan, di masjid itu, kebetulan saya bertemu dengan seorang mahasiswa Ph.D dari Indonesia yang sudah setahun di Taipei. Dia bilang kalo selama bulan Ramadhan masjid tersebut menyediakan buka puasa serta makan malam gratis… tis… tis… Dan tentu saja makanan yang disediakan dijamin Halal. Katanya sih, makanan itu disediakan oleh pemerintah Arab Saudi. Jadi wajar saja kalo dalam 5 hari kemarin ini saya intens pergi ke sana.

Oke, mungkin udah pada penasaran mau pada lihat menu yang mereka suguhkan. Mari kita perhatikan satu persatu. Yuk yak yuuuk

============================

Bubur kacang merah dan segelas teh tawar panas. Aneh kan? makan bubur nggak pake sendok malah pake sumpit. Jadi ya tinggal glek aja langsung dari mangkoknya, sumpitnya dipakai kemudian buat makan nasi. Di bagian atasnya sebenarnya ada kurma dan buah2an. Saya mencobanya di hari pertama puasa.

============================

Nah, ini nih… sekilas saya kira bubur itu adalah bubur kacang ijo, karena warnanya yg agak kehijauan dan teksturnya kental. Tapi ternyata… bubur ayam. Cukup aneh buat membatalkan puasa. Saya baru coba ini 2 hari kemarin. Untuk menu berbuka, sebenernya masih ada satu jenis lagi, yaitu bubur sagu mutiara. Cukup sering kok dijumpai di tanah air. Alesan, padahal gak sempet moto gara2 udah habis dimakan duluan

============================

Beugh… ini dia main menu-nya. Jadi, setelah para tamu berbuka secukupnya, acara dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah. Setelah itu kembali lagi ke ruang makan untuk menyantap makan malam dengan menu daging2an dengan cita rasa ke-Arab2-an. Kalau beruntung, sisa makanan itu boleh dibawa buat sahur.

============================

Yah, begitulah salah satu nikmat yang الله berikan di bulan suci ini.

Internet di Dormitory

Sunday, September 9th, 2007

Kebutuhan berinternet buat saya sudah hampir menjadi kebutuhan primer. Dari kemarin saya coba mencari tahu gimana caranya menggunakan port LAN yang nganggur tepat di meja belajar di kamar nomor 152 di Male Dormitory for Master Student. Setelah tanya ke volunteer (mahasiswa S1 yang bersedia membantu international student selama belajar di NTU, red) dan juga dormitory supervisor, ternyata syarat untuk menggunakan LAN port tersebut tidak semudah yang dikira seperti halnya USB yang plug and play.

Ada beberapa tahap yang mesti dilalui untuk bisa berinternet ria di kamar asrama. Pertama-tama student harus login terlebih dahulu ke jaringan internal kampus. Setelah itu akan ada 10 pertanyaan yang harus dijawab untuk bisa memperoleh IP address. Kalo nggak salah, poin minimal yang diharus diperoleh dari tes itu adalah 80 poin. Yang artinya harus benar 8 soal dari 10 pertanyaan. Mungkin pertanyaannya mudah, tapi yang bikin susah ya bahasanya itu, bahasa Mandarin gitu loh. Setelah bekerjasama bahu-membahu dengan Gray (my volunteer, anak tingkat 2 di S1 Biologi), akhirnya kita dapat poin 90. Yatta!

Perlu menunggu 5-10 menit setelah proses tersebut berlangsung. Dan setelah itu, I can enjoy surfing on the internet. Coba ngetes bandwidth dengan ini, dan hasilnya adalah sebagai berikut :

Mau nitip donlot?

Sumber Bestik – Solo

Monday, September 3rd, 2007

Kalau Anda jalan2 ke Solo dan bingung mencari makan di malam hari, ada baiknya Anda mampir ke tempat ini : Sumber Bestik-Pak Darmo di Jl. Honggowongso, Solo, Jawa Tengah. Darmo yang ini tentunya bukan Darmo yang ikutan acaranya Kelik di Sulap-Selip.

Menunya cukup variatif seperti layaknya jajanan sideroad (pinggir jalan) lainnya, ada nasi/mie goreng, mie godog (rebus), capcay goreng/rebus, bestik daging, bestik dadar lidah, dll. Untuk lebih lengkapnya, silakan lihat daftar menunya sebagai berikut :

Yang bikin saya cukup impresif adalah tim memasaknya. Ada 3-4 orang yang bekerja sama satu dan yang lain untuk menghidangkan sepiring atau beberapa piring menu yang dipesan.

2 orang yang pake celemek itu bertugas menggoreng-goreng dan memasak menu, seorang yang berdiri di samping kiri si celemek merah bertugas memasukkan bahan2 masakan beserta bumbu2nya. Dan cara dia masukin bahan dan bumbu itu cukup mengesankan, yaitu dengan melemparnya ke penggorengan yang kadang2 dilakukan tanpa melihat ke arah penggorengan. Sedangkan ibu berbaju biru bertugas menyajikan masakan serta memberikan hiasan sebagai pelengkap menu.

Setelah keributan di tempat masak tersebut berlalu, datanglah 2 menu pesanan saya. Bestik dadar lidah dan nasi goreng. Selamat menikmati…