Back into the Track
Thursday, August 16th 2007Buat seorang pengangguran, hal apa yang paling bikin males dan tak bersemangat? Mungkin tiap orang akan beda2 menjawabnya, tapi kalo buatku, pertanyaan ini lah yang paling ingin dihindari : “sekarang udah kerja di mana?” Wahai para mantan fresh graduate ataupun yang masih fresh graduate, pertanyaan itu sangat sensitif bukan? Secara reflek, kalian akan segera menangkis atau mengelak dari pertanyaan itu. Kenapa? Karena pertanyaan itu secara nggak langsung mempertanyakan tingkat kompetensi seseorang. Secara logika, seseorang yang memiliki banyak keunggulan dan kemampuan atau memiliki daya kompetensi yang tinggi akan cepat diterima kerja dengan gaji yang tinggi di sebuah perusahaan asing ternama. Semakin rendah tingkat kompetensinya, semakin rendah pula gaji yang diterima dan perusahaan tempat ia bekerja akan semakin sayup2 terdengar.
3 kali ditolak bekerja di perusahaan besar, buatku sudah cukup membuktikan rendahnya kompetensi yang kumiliki di dunia kerja. Satu hal yang mengganjal, dan itu bukanlah masalah akademik, entah kenapa aku selalu bingung kalau ditanya masalah organisasi. Dari sekian banyak unit yang pernah kuikuti di kampus, semuanya cuma menjabat sebagai anggota, dari mulai HME yang cuma ikut OSPEK-nya doang, MaTa Salman, ARC, Persatuan Sepakbola, sampai Unit Tenis. Kurasa di situlah letak kelemahanku ngelamar kerja selama ini. Tidak ada peran aktif yang konkrit dalam sebuah organisasi.
Untungnya, dunia akademik dan dunia kerja tidak berhubungan secara seri. Artinya, kegagalan di dunia kerja tidak menjamin kegagalan di dunia akademik. Sekali coba2 ngelamar beasiswa dengan IP dan skor TOEFL pas2an, ditambah banyak2 berdoa, dan sedikit modal nekad, akhirnya diterima juga di salah satu universitas di Taiwan. Tapi tentunya yang membuat aku diterima di sana, I believe that is Allah plan. Manusia cuma bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Dan secara nggak disadari, aku kembali ke jalan yang benar. Yup, I’m back into the track. Track di mana dulu ketika SMU punya niatan buat meraih gelar Doktor sebelum umur 30. Track yang hanya bisa dilewati oleh penyandang gelar Master. Track yang mungkin nggak akan tercapai seandainya aku diterima di salah satu perusahaan itu.
Ok, it’s enough about me. What about you?
Oh ya, ada satu lagi hal yang mengganjal dengan status pengangguran. Yaitu adalah kebingungan ketika mengisi kolom pekerjaan atau instansi pada suatu formulir. Ini saya rasakan berkali2, di antaranya ketika memperpanjang SIM, membuat paspor, atau mengisi daftar tamu yang menanyakan asal instansi. Dan berkali2 pula saya isi dengan status mahasiswa dan instansinya ITB. Ya habis mau gimana lagi? Soalnya kolom itu nggak boleh kosong.
ario
@ kang dzaia : waktu ane baca itu pengumuman beasiswa untuk mahasiswa tahun ke-2. dari 10-an pelamar yang dari Indonesia (yang udah kul disana) hanya satu orang yang dapat..
sy juga ga ngerti.. 
Yang ngomong lumayan susah.. ibu yuhana (www.yuhana.wordpress.com) tapi katanya kalo usaha bisa dapet..

Oh.. langsung dari NTU ya…
“
Sukses ya…. “lagi menghayal semoga keterima beasiswa kaya kang dzaia..
dzaia-bs
aku nggak apply yg lewat pemerintah Taiwan,
tp yg dari departemen elektro di NTU… nggak susah2 banget kok
masak sih cuma dikit? aku udah ketemu lebih dari 10 orang Indonesia kok di sini…
ario
Terkadang kita tidak mengerti rencana Allah..
I believe you are in the right position..
Keep hamasah..
Anyway.. nglamar s2 lewat Taiwan government scolarships ya? atau langsung dari NTU.. yang menurut Info susah bangeeeet…
Pernah liat pengumuman penerimaan beasiswa (di situs NTU) dari sekian banyak penerima beasiswa hanya 1 dari Indonesia..
Listyanto
Memang kenapa kalau belum dapet kerja?Memang kenapa kalau yang mau nerima hanya perusahaan kecil?
Sukses kan tidak dedefinisikan sesempit itu.
Jadi ya tetap bersyukur pada Allah SWT dan optimis.
Barangkali untuk mendapatkan gaji besar di perusahaan melebihi teman-teman yang udah lebih dulu dapet mesti melewati tahap ini dulu.
Sepakat dengan Amir, hindari menulis yang dapat menyebabkan kesalahan persepsi. Mungkin bisa dikoreksi sekalian.
dzaia-bs
@all:
thank you for your inspiring-encouraging-motivating words
rime
ayo pak jaya, sumanget sumanget… kalo dirimu bisa nyemangatin gua yang bakal lulus dengan IP 2,8 lu juga pasti bisa semangatin diri sendiri dong..
semoga cita2 doktor-mu tercapai, dan kembali ke Indonesia dengan gelar yang lebih tinggi, hihiy…
amir
well…jay…you right its Allah plan…most of your “smart” friend don’t intend to pursue their degree right? so its really a chance for you to prove ur self that you, that not as smart as them
, has a higher degree in your 30, and you do has a dream and plan about your life.
Okay Jay….but I don’t like that you use term HIS to call Allah “I believe that is HIS plan”. Because Allah has no gender, just call Allah thats enough and Allah will hear you…thank you!
sigit
bang jay, jalan hidup antar orang memang berbeda
yang penting adalah kita menemukan jalan hidup kita sendiri dan passionately menjalaninya sepenuh hati
yang jelas bagi kita-kita, jalan hidup kedepan itu adalah satu diantara dua: profesi atau akademisi
tak ada yang lebih baik, dua-duanya adalah jalan yang terhormat
congrats for finding your way sebagai akademisi, jalani dengan passion!!!
congrats again bro…
ar!ef
Bnr kata Si Brian kali, ya.. Tapi mungkin berarti kadang “banyak bicara” perlu juga. Alhamdulillah gw bisa diterima kerja walopun sama tuh kyk Om Jay juga, ga pernah mimpin satu organisasi pun di kampus.
Tapi gw ngiri juga sama Om Jaya yang cita2nya tinggi: jadi doktor seblm 30. Ngiri juga sama tmn2 yang dikasih kesempatan belajar lagi di negeri orang. Yg namanya manusia emang susah bgt kali ya untuk ngerasa puas sama apa yang UDAH dia dpt.. Doain aja deh supaya mudah2an suatu saat bisa kyk Om Jaya nerusin sekolah lagi, syukur2 kalo sekalian ngerasain hidup di negeri orang, apalagi dibayarin (beasiswa)!
brian
mendapatkan pekerjaan dan kompetensi seseorang sepertinya memang berkaitan seperti om Jaya bilang.
Orang yang punya kompetensi, atau punya potensi untuk punya kompetensi, atau paling tidak orang yang punya kompetensi untuk membuat dirinya terlihat punya kompetensi (confused?) akan dicari oleh perusahaan2 untuk mereka pekerjakan.
Tapi kompetensi dan kedudukan di dalam organisasi sepertinya tidak selalu paralel. ada banyak hal lain yang berpengaruh.
yang pernah satu tim dengan om Jaya tentunya tahu gimana kontribusi om Jaya di dalam tim?! heuheu…
terbukti beberapa kali sukses jadi EO membawa anak2 EL02 ber-haheho ria. Om Jaya tipe orang yang sedikit bicara banyak bekerja.
good luck Jay… I wish you all the best