Archive for August, 2007

Xuexi Hanyu

Wednesday, August 29th, 2007

xuexi = belajar
Hanyu = Madarin

Kata siapa lidah orang Indonesia itu fleksibel hingga bisa mengucapkan semua bahasa dengan baik? Kalo pernah belajar Mandarin, mungkin orang2 Indo nggak akan bisa sombong seperti itu lagi. Why? Karena menurutku yang baru belajar bahasa yang konon kabarnya paling banyak dipakai di dunia itu selama 8 pertemuan atau 16 jam, bahasa Mandarin itu susahnya minta ampun, terutama dalam pengucapan dan pelafalannya. Ada 4 nada yang nggak boleh tertuker satu sama lain karena akan menyebabkan perbedaan arti. 4 nada itu adalah, 1 = datar, 2 = naik, 3 = diayun, 4 = disentak. Contoh : kata Mai. Bila diucapkan dengan nada 3 atau diayun, mai berarti membeli. Namun bila diucapkan dengan nada 4, mai memiliki arti menjual. Itu baru satu contoh, dan kasus semacam ini akan banyak dijumpai. Nah lho…

Itu baru masalah nada, belum lagi masalah pengucapan huruf yang mirip2. Huruf ‘j’, ‘q’, dan ‘z’, semuanya dibaca ‘c’ atau ‘ch’ dengan perbedaan lidah ditekuk atau tidak, diucapkan dengan muncrat atau tidak. Bingung kan? sama… Tapi ya nggak pa2 lah, namanya juga belajar. Mungkin akan terasa berat di awal, tapi semoga akan menyenangkan nantinya.

Dan ngomong2 masalah kursus, baru kali ini dari sekian banyak tempat kursus bahasa yang pernah kuikuti, resepsionisnya selalu ngingetin kalo di hari itu ada kelas, dan menanyakan apakah bisa dateng atau tidak. Tadi malam kutanya si Mbak resepsionis itu, apa dia selalu menelpon semua peserta kursus di setiap hari adanya kelas. Dia jawab, iya. Katanya supaya peserta termotivasi untuk selalu menghadiri kelas. Wow! Tentu saja ini bukan hal yang biasa dijumpai di tempat kursus bahasa lainnya. Kalo kata Hermawan Kertajaya, istilahnya mereka ini sedang membangun atau menciptakan yang namanya experience value. Dari experience value ini lah diharapkan para customer memiliki keterikatan atau passion kepada mereka (pemilik usaha). Lalu apa keuntungannya bagi customer? Salah satunya adalah free promotion.

Apalagi yang menarik dari kursus di tempat itu? Yaitu, salah satu Laoshi (guru) yang bernama Dewi, bisa dengan cepat menghafal semua nama muridnya hanya dengan sekali mengabsen. Dan lebih mencengangkan lagi, dia hafal sampai saat ini semua percakapan yang ada di buku teks. Awalnya saya berpikir, wajarlah, dia kan udah mengajar bertahun-tahun. Tapi lama kelamaan, saya takjub juga, dia bahkan hafal sampai halaman2nya, session berapa di halaman berapa, dan urutan vocab2 baru di setiap chapter. Sungguh daya ingat yang luar biasa…

Buku teks yang mereka kasih adalah karangan institusi mereka sendiri dengan bahasa pengantarnya Mandarin-Inggris. Yang lucu, buku teks ini dibuat sedemikian rupa sehingga punya cerita sendiri. Alkisah ada seorang cowok bernama Gubo (baca : Kupo) yang konon nama aslinya adalah Gilbert tapi setelah diMandarinkan menjadi Gubo, bertemu dengan Palanka (baca : Phalankha) yang konon nama aslinya adalah Fransiska, di salah satu stasiun kereta di RRC. Dari perkenalan tersebut, berlanjutlah hubungan mereka menjadi TTM, dan akhirnya berpacaran. Suatu saat Palanka mengenalkan Gubo dengan temannya yang asli RRC yang bernama Ding Yun (baca : Ting Yun). Emang dasar Gubo adalah lelaki buaya darat, maka di-PDKT-lah si Ding Yun. Pelajaran yang kemaren dikasih baru sampai situ. Katanya Laoshi Dewi sih nantinya si Gubo bakal selingkuh sama si Ding Yun, padahal si Ding Yun udah punya pacar. Memang, masalah cinta2an selalu seru kalau dibuat cerita. Tapi kalau diterapkan ke realita, lebih rumit adanya.

Last but not least, saya ikutan kursus di BTIP (Bina Terampil Insan Persada) di Arteri Pondok Indah.

Warung Bethania

Monday, August 20th, 2007

Kali ini Mas2 dan Mbak2 akan saya anter ke daerah bagian timur Jawa, tepatnya di daerah Batu (nek wong Jowo mocone Mbatu), Malang. Kalo sampeyan orang Malang, mungkin sudah familier dengan warung yang satu ini kali ya? Namanya Warung Bethania.

Mungkin buat yang belom pernah ke sana akan terasa aneh dengan suasananya. Lihat gambar di atas kan? Begitu menginjakkan kaki ke dalam restauran itu, seolah-olah sampeyan diajak memasuki sebuah gua dengan sentuhan2 hutan rimba. Gelap pastinya dan sangat mendukung untuk beromantisan bersama pasangannya.

Tapi tentunya, suasana bukan faktor utama dari sebuah restauran. Menu yang kebetulan disiapkan oleh restauran itu kepada rombongan yang saya tumpangi adalah…

Komentar saya? Kayaknya nggak perlu ditanya lagi deh, one word : DELICIOUS… Mungkin rasa lapar telah membutakan lidah saya, habis mau bilang apa lagi? Perutku udah demo, menuntut haknya minta dipenuhi. Dan, *jarene wong Jowo, ngelih kuwi lauk sing paling enak… (*Kata orang Jawa, lapar itu adalah lauk yang paling enak.)

Back into the Track

Thursday, August 16th, 2007

Buat seorang pengangguran, hal apa yang paling bikin males dan tak bersemangat? Mungkin tiap orang akan beda2 menjawabnya, tapi kalo buatku, pertanyaan ini lah yang paling ingin dihindari : “sekarang udah kerja di mana?” Wahai para mantan fresh graduate ataupun yang masih fresh graduate, pertanyaan itu sangat sensitif bukan? Secara reflek, kalian akan segera menangkis atau mengelak dari pertanyaan itu. Kenapa? Karena pertanyaan itu secara nggak langsung mempertanyakan tingkat kompetensi seseorang. Secara logika, seseorang yang memiliki banyak keunggulan dan kemampuan atau memiliki daya kompetensi yang tinggi akan cepat diterima kerja dengan gaji yang tinggi di sebuah perusahaan asing ternama. Semakin rendah tingkat kompetensinya, semakin rendah pula gaji yang diterima dan perusahaan tempat ia bekerja akan semakin sayup2 terdengar.

3 kali ditolak bekerja di perusahaan besar, buatku sudah cukup membuktikan rendahnya kompetensi yang kumiliki di dunia kerja. Satu hal yang mengganjal, dan itu bukanlah masalah akademik, entah kenapa aku selalu bingung kalau ditanya masalah organisasi. Dari sekian banyak unit yang pernah kuikuti di kampus, semuanya cuma menjabat sebagai anggota, dari mulai HME yang cuma ikut OSPEK-nya doang, MaTa Salman, ARC, Persatuan Sepakbola, sampai Unit Tenis. Kurasa di situlah letak kelemahanku ngelamar kerja selama ini. Tidak ada peran aktif yang konkrit dalam sebuah organisasi.

Untungnya, dunia akademik dan dunia kerja tidak berhubungan secara seri. Artinya, kegagalan di dunia kerja tidak menjamin kegagalan di dunia akademik. Sekali coba2 ngelamar beasiswa dengan IP dan skor TOEFL pas2an, ditambah banyak2 berdoa, dan sedikit modal nekad, akhirnya diterima juga di salah satu universitas di Taiwan. Tapi tentunya yang membuat aku diterima di sana, I believe that is Allah plan. Manusia cuma bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Dan secara nggak disadari, aku kembali ke jalan yang benar. Yup, I’m back into the track. Track di mana dulu ketika SMU punya niatan buat meraih gelar Doktor sebelum umur 30. Track yang hanya bisa dilewati oleh penyandang gelar Master. Track yang mungkin nggak akan tercapai seandainya aku diterima di salah satu perusahaan itu.

Ok, it’s enough about me. What about you?

Oh ya, ada satu lagi hal yang mengganjal dengan status pengangguran. Yaitu adalah kebingungan ketika mengisi kolom pekerjaan atau instansi pada suatu formulir. Ini saya rasakan berkali2, di antaranya ketika memperpanjang SIM, membuat paspor, atau mengisi daftar tamu yang menanyakan asal instansi. Dan berkali2 pula saya isi dengan status mahasiswa dan instansinya ITB. Ya habis mau gimana lagi? Soalnya kolom itu nggak boleh kosong.

SPMB

Friday, August 3rd, 2007

Tidak terasa, sudah 5 tahun yang lalu perjuangan untuk memperebutkan satu kursi di kampus gajah duduk ini berlalu. Padahal sepertinya baru kemarin malem temanku si Besar telpon, “Gimana Jay? diterima di mana loe?”

“Nggak tahu, Sar.” Itu jawabku setelah habis magrib ngeluyur ke warnet buat membuka situs www.spmb.or.id. Apesnya, di warnet yang lemotnya bukan main itu, situs SPMB tersebut nggak muncul2. Mungkin dan mendekati pasti karena ratusan ribu pendaftar SPMB itu sedang mengakses situs yg sama. Nihil sudah hasil perjalanan malam2 yg diliputi rasa penasaran itu. Keep positive thinking : itung2 sedekah buat yg punya warnet lah.

Kemudian Pak Besar menawarkan jasanya untuk melihatkan hasil SPMB-ku di komputernya. Dan hasilnya, tentu sudah pada tahu kan? Dengan perasaan rada2 nggak percaya, pagi harinya aku lihat lagi pengumuman di koran, sekedar memuaskan dan menuntaskan rasa penasaran.

Mengungkit-ungkit masa lalu yang indah memang menyenangkan. Memori ini keluar lagi dari ingatan setelah salah satu media massa langganan di rumah melampirkan hasil SPMB tahun ini. Selain itu, hari ini radio ini juga melulu isinya tentang SPMB.

Perasaan yang sama muncul kembali, tepat 2 minggu yang lalu. Setelah sebuah universitas di Asia mengirimkan email yang berisi SPMB (Surat Penerimaan Mahasiswa Baru). Dan di bawah ini adalah scan-an surat yg dikirimkan beserta email seminggu yg lalu.

Mohon doanya… :-)