Motor dan Filosofi Sungai

Wednesday, July 4th 2007

Beda banget rasanya naik motor di Bandung sama di Jakarta. Di Jakarta medannya lebih mengerikan, kadang biker (I can not find any suitable word for ‘pengendara motor’) nggak tau bagaimana kondisi jalanan di depan, apakah berlubang atau nggak, karena ketutupan saking banyaknya mobil. Belom lagi angkot2 n bus2 umum yg tiba2 minggir seenaknya tanpa ngasih lampu sen. Makanya, tangan kanan dan kaki kiri harus selalu siap buat ngerem mendadak.

Sebenernya apa sih enaknya naik motor dibanding naik mobil atau kendaraan umum? Kalo hujan kehujanan, kalo panas kepanasan, pake jaket kepanasan, gak pake jaket bisa item, ngisep asep knalpot (lumayan bisa mengurangi efek rumah kaca dikit2 karena asepnya dihirup sama bikers), nggak boleh masuk jalan tol, lebih rentan resiko kecelakaan, dan masih banyak lagi kekurangan2 bermotor ketimbang bermobil. Tapi, ada satu kelebihan bermotor yg nggak dipunyai oleh mobil. Dalam bermotor, kita bisa menerapkan filosofi air sungai.

Maksudnya begini, bayangkan sungai adalah jalanan yg dilalui oleh semua jenis angkutan darat. Andaikan motor, mobil dan bus adalah sebuah benda yg mengalir terapung di sungai (kalo mau contoh yg di Ciliwung, anggap aja itu sampah) yg memiliki ukuran2 tertentu. Ketika di sungai itu tidak ada hambatan yg menghalangi aliran arus sungai, maka semua benda2 itu akan dengan lancar mengalir. Namun ketika terjadi hambatan, benda2 dengan ukuran kecil akan mampu menerobos hadangan2 benda2 yg berukuran lebih besar yg ada di depannya.

Ya, begitulah motor. Ketika terjadi lampu merah atau kecelakaan yg menyebabkan antrian mobil yg sangat panjang, motor2 yg ada di belakang dengan enaknya menyusul dengan cara meleber ke samping2 ruas jalan. Bahkan kalo perlu, trotoar juga dipake. Saat mobil nggak bisa menemukan celah untuk terus maju, para biker tetap dapat menciptakan celah untuk mencapai tujuan. Memang cuma satu kelebihan inilah yg menurut saya yg paling krusial dari bermotor. Satu kata kunci yg membuat motor ini punya nilai lebih : WAKTU.

“pegel nih duduk terus, lemesin pant** dulu ah…”