Dalam Mihrab Cinta

Tuesday, June 12th 2007

Novelet dengan 3 kisah berbeda ini saya beli hari Jumat yang lalu sekaligus untuk hadir dalam acara ‘Temu Penulis’ yang diadakan oleh pihak penerbit. Sekedar pingin tahu bagaimana penampakan sejatinya dari Kang Abik. Berbekal kamera digital dari rumah, namun akhirnya tidak terpakai karena ragu, sungkan, dan malu untuk mengambil foto sang penulis. Karya2 best-sellernya adalah alasan acara temu penulis itu ramai dipenuhi pengunjung.

Eksklusif. Mungkin itu kesan yang didapat ketika mengamati buku ini. Hard cover, 2 pembatas buku, dan kertas yang tidak biasa untuk sebuah novel adalah faktor2 ke-eksklusif-an tadi. Buku yang terdiri dari 300 sekian halaman tersebut, terdiri dari kisah ‘Takbir Cinta Zahrana’, ‘Dalam Mihrab Cinta’, dan ‘Mahkota Cinta’. Tanpa bermaksud spoiler, saya hanya memberikan secuil cerita mereka.

Zahrana. Tokoh utama dalam kisah pertama ini adalah seorang wanita yang menunda-nunda masanya untuk menyempurnakan separo agamanya. Terlalu memikirkan karir atau terlalu selektif dalam memilih calon. Berkali-kali tawaran datang kepadanya, dan berkali-kali juga ia menolaknya. Hingga pada akhirnya ia merasa pasrah dan bersedia dikhitbah oleh siapa pun selama dia laki2.

Syamsul Hadi. Akibat terkena fitnah dari teman seasramanya, ia jadi dimusuhi oleh semua orang disekelilingnya termasuk keluarganya. Dalam fitnah yang sangat kejam itu akhirnya ia terbujuk oleh rayuan setan untuk melakukan pencopetan. Bukan karena apa2 melainkan alasan perut. Namun Yang Maha Kuasa masih menuntunnya ke jalan yang benar. ‘Dalam Mihrab Cinta’ yang diceritakan dalam buku ini, menurut Kang Abik hanya merupakan ringkasan dari sebuah roman dengan judul yang sama yang masih dalam tahap persiapan.

Ahmad Zulhadi. Bingung tanpa tujuan merantau ke negeri Jiran. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita yang dikiranya seorang TKW biasa, akhirnya ia berhasil menjadi salah seorang mahasiswa S2 di Universitas tertua di Malaysia. Berbekal dompet tipis dari tanah air, ia rela membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan juga untuk membiayai uang kuliahnya. Sebuah berita mengejutkan sempat membuatnya hilang semangat hidup. Namun, karena dikelilingi oleh orang2 baik, maka ia akhirnya bisa keluar dari penyakit ‘mabuk cinta’-nya.

Banyak kesaaman dari ketiga cerita di atas. Pertama, semuanya berujung pada satu kata, menikah. Kedua, adanya tokoh antagonis yang sangat2 kejam di ketiga cerita tersebut. Ketiga, pesan yang disampaikan hampir sama, sabar dan berserah diri kepada Allah SWT. Keempat, berbeda dengan karya fenomenal Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, novelet kali ini terasa sangat membumi di mana tokohnya tidak ada yang begitu seistimewa Fahri atau pun Azzam. Kelima, semuanya berakhir happy ending.

Wassalam.