What a ‘Cape’ Day(h)…

Monday, June 11th 2007

Sekali-kali pengen curhat ah… Daripada bingung mau ngisi apa di blog ini. Ya, daripada ada kekosongan lebih baik ada isi. Maksud LOE? Nggak meaning banget sih. Minggu pagi, Pagi-pagi, biasalah namanya juga jomblo yang melalui setiap minggu dengan kegiatan di luar kegiatan anak muda yang sudah punya pasangan pada umumnya, doing my hobby, tenis. Sayang dan kasihan, nggak punya tv kabel, jadi nggak bisa nonton Rolland Garros, jadinya kemampuanku nggak bertambah. Harapannya, minimal stamina mendekati Nadal, servis sedikit lebih pelan dari Roddick, dan skillnya nggak jauh2 dari Federer. Tapi kalaupun ada tv kabel, kayaknya teteup nggak bisa nonton selain pake tv langganan Astr* (Inget ya, ini TV langganan, bukan Astr* yang jualan mobil atau motor). Tapi bagaimana mungkin? Pekerjaan saja aku tidak punya, dan sepertinya, teman2 malu bermain denganku. Kecuali si Herman* dan si *rian, ya… panggil saja mereka begitu, karena si Herman* itu rela2 dateng jauh2 dari pedalaman Gatot Subroto ke Cipete cuma buat… ya! Anda betul, maen tenis.

Yo wis, akhirnya kita bertiga main dan ditemani salah seorang teman kerja Bapak, biar pas main dobel. Saya sama si Herman* melawan Bapak Itu sama si *rian. Apes, saya sama si H (dipersingkat karena males nulis Herman* ber-ulang2) kalah dua kali 7-8, 6-8. Ini lah akibat buruk dari tidak menonton pertandingan kelas dunia yang lagi berlangsung di Perancis. Setelah pertandingan selesai, perut keroncongan. Dengan cepat otak menangkap rangsangan dari perut, kemudian dengan cepatnya otak bekerja, hasil pikiran disampaikan lewat mulut, dan terucaplah kata : makan siang. Setelah memendam rasa penasaran berbulan-bulan, maka tanpa pikir panjang tercetuslah sebuah ide brilian, bahkan sangat brilian. Bosan dengan suasana Asia, maka kita berencana menuju sebuah tempat dengan menyeberangi benua Asia ke salah satu benua dengan julukan benua hitam, dan tempat yang kita tuju adalah SATE AFRIKA!

Dari namanya aja udah bikin penasaran, apalagi masakannya. Namun, ide tak akan terealisasi tanpa planning yang mantab. Maka berangkatlah kita ber-3 ke rumah si B (males juga nulis *rian terus2an) untuk mempersiapkan rencana yang matang. Berselancar di internet dalam beberapa menit, akhirnya kita tahu alamat sasaran kita. Di bantu dengan perangkat lunak tentang peta Jakarta, maka rencana kita kali ini bakal mengenai sasaran. Namun sebelum kita menuju target, si B ingin mampir dulu ke Metro terminal tenis buat nyenarin raketnya yang putus sejak kemarin. Waktu luang tidak dilewatkan begitu saja tentunya untuk nanya2 harga raket2 baru. Harga Prince O3 White yang ditanyain orang Malaysia itu akhirnya terjawab sudah. Sekalian juga saya tanya raketnya Federer yang dipakai sejak awal musim ini. Pengen sih, tapi kayaknya akan tertunda sampe dapet gaji kedua. Karena gaji pertama sudah dicanangkan buat upgrade kompie. Gaji ketiga buat ganti hape. Gaji keempat dst buat mempersiapkan ‘hari yang paling bersejarah’. Gaji setelah dst adalah untuk menata hidup bersama seseorang yang telah dituliskan-Nya dalam Kitab Takdir. Masalahnya, sampai saat ini belum ada perusahaan mana pun yang sudi memberikan gaji itu.

Setelah dari Metro, kita langsung menuju sasaran. Tidak salah memang apabila kita melakukan segala sesuatu dengan rencana yang sangat matang, karena kita pada akhirnya dapat mengenai sasaran walaupun sebelumnya hanya dapat menyerempet sedikit. Ya, kita telah sampai di alamat yang dimaksud. Sangat jelas dan benar bahwa kita telah sampai di Jl. KS Tubun no.6 Petamburan 2, di mana di sana memang ada warung yang persis dengan foto pada weblog seseorang di internet. Yang salah dari keadaan pada saat itu hanya : tidak ada yang jual, tidak ada yang beli, dan tidak ada satenya! Setelah celingak-celinguk kiri-kanan, akhirnya si B bertanya pada seorang Ibu penjual makanan di sebuah warung dekat tempat itu. Dan benar saja, ternyata pada hari libur tempat itu tutup. Dan Ibu tadi juga menambahkan, “kalaupun adik datang, jam segini sudah bakal kehabisan, orang dia cuma nyembelih 6 ekor kambing” kira2 begitulah yang Ibu itu katakan pada si B yang coba saya terjemahkan dengan pengeditan seperlunya tanpa mengubah maksud dan tujuan dari kata2 si Ibu. Padahal ketika saya melirik ke jam mobil, pada saat itu baru pukul 11:4x (dengan x adalah suatu bilangan). Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini : siapkan Plan B di samping rencana yang sangat matang itu, atau kalau perlu plan C, D, E, dst.

Si B yang bekerja di salah satu perusahaan vendor telekomunikasi itu kemudian menghubungi temennya untuk meminta rekomendasi tampat2 wisata kuliner. Hasilnya, beberapa rekomendasi, tapi tidak dapat dieksekusi karena keterbatasan pengetahuan, khususnya pengetahuan peta Jakarta dan sekitarnya. Si B kemudian menyuruh si H untuk menghubungi teman2nya untuk maksud yg sama, tapi hasil akhirnya tetap nihil. Beberapa kebingungan menuntun ke suatu titik terang, laksana hakim pengadilan mengetok palu keputusan, si B meminta kepada sang driver untuk menuntun ke restauran yang tempatnya pasti2 aja deh. Terbersit sekilas nama, Tata Ribs. Pada akhirnya itulah tempat persinggahan kami berikutnya untuk memanjakan perut2 yang sudah menangis minta makan.

Tricky, itulah yang dilakukan restauran itu. Dengan segera ia membawakan 3 piring nasi putih, bawang goreng, dan irisan jeruk nipis. Apa yang langsung terlintas di pikiran saya? Datang tak dipesan, pulang tak dibayar. Kesimpulannya, semua itu gratis! Kemudian setelah bertanya mengenai menu2 yang kelihatannya tidak familier, kami memesan beberapa menu tanpa pikir panjang, dan si pelayan pun akhirnya menunjukkan wajah aslinya. Bahwa kebaikannya di awal kedatangan kami dengan memberi kami 3 piring nasi putih secara cuma2, ternyata adalah sebuah kebohongan publik. Ia langsung menambahkan dalam pesanan, Nasi Putih : 3.

Tidak kalah dengan restauran fast food, dalam hitungan tidak sampai 2 menit, hampir semua menu yang dipesan sudah terhidang di depan meja kami. Kasihan si B, ia harus menunggu menunya yang datang agak lama sampai satu potongan ribs yang saya pesan habis dan saya pesan tambah sepiring nasi. Dia agak terkejut dengan porsi menu yang dia pesan. Bukan satu potong ayam rica2 yang dibawakan sang pelayan, tapi satu ekor ayam rica2 yang dipotong menjadi beberapa bagian. Pantes aja, setelah bill-nya dicek, harga menu yang dia makan adalah yang paling mahal di antara kita bertiga. Tapi bukan dia yang pengeluaran untuk makan siangnya per orang paling besar, melainkan saya, yang membeli 2 nasi putih, 1 porsi ribs, 1 es mamink, dan satu teh obeng (es+teh+gula). Tidak heran, untuk suatu kekenyangan yang luar biasa untuk bisa bertahan tidak makan sampai malam, total tagihan mencapai 6 digit dengan kepala ‘1’.

Tugas sebagai kakak yang baik pada hari itu bagi saya adalah menuruti perintah orangtua dan menjemput adiknya yang sedang mengikuti kegiatan sekolah di TMII. Saya disuruh menjemputnya sekitar jam 4. Masih sangat banyak waktu senggang yang bisa digunakan untuk menambah ilmu sembari menunggu waktu yang ditetapkan. Si H akhirnya memutuskan untuk mengakhiri perjalanannya setelah makan besar itu. Dan si B memilih melanjutkan perjalanan bersamaku. Hari gini di mana2 ada mall, begitu pula di daerah Taman Mini, namanya Tamini Square. Rasa penasaranku tak kuasa terbendung untuk menyinggahi tempat tersebut. Rasa penasaran kemudian hilang, begitu memasuki pintu masuk samping mall tersebut, suasana seperti ITC lah yang saya temukan. Tidak jauh berbeda dengan ITC2 yang ada di beberapa penjuru kota Jakarta. DVD bajakan sesekali mencoba menarik saya untuk membelinya, tetapi ketika ingat Rileks-the community to share, daya pikat keping2an DVD itu pun segera pudar. Tentunya selain mengingat isi dompet yang tinggal 50 ribu sekian. Kalau saya beli macem2, bisa2 nggak bisa pulang.

Dari melancong ke Tamini Square itu, si B mendapatkan buku dan saya mendapatkan pengalaman. Sampai di pintu masuk Taman Mini, mobil dikenai charge 10 ribu dan manusia di atas 1 tahun dikenai tiket 9 ribu. 5x-28, anggap saja tinggal itu lah uang yang masih menjejali dompet saya. Sampai di sana sekitar setengah 4, saya langsung menuju tempat adikku melakukan pentas seni di Teater Tanah Airku (TTA). Dan sebelumnya, saya bertanya kepada orang yang berada di dekat penjaga loket masuk itu di mana letak TTA. Dengan cepat dia bilang, “kiri, kanan, kanan, kiri.” Cuma itu clue yang didapatkan untuk mencari jejak TTA. Nggak seperti kebanyakan orang yang menunjukkan clue dengan agak jelas, misalnya “oh ini Mas, mentok ke kiri, terus pertigaan berikutnya belok kanan, mentok lagi, kanan lagi, terus langsung kiri,” kalo gitu kan mudah dicerna. Lha si penjaga tadi cuma menggunakan 4 kata.

Dalam penantian, si B mengajak untuk berjalan-jalan ke sekitar TTA. Karena dari Padang, ia langsung mengajak ke anjungan Sumatera Barat yang sangat kebetulan letaknya tidak jauh dari TTA. Hingga pada suatu saat, ia memberikan ide untuk naik Skylift, atau bahasa ndesonya : kereta gantung. Hmmm… udah berapa lama ya aku nggak naik kereta gantung? Tanpa ragu2 kusetujui saja ajakannya. Walaupun keraguan itu sempat muncul ketika melihat harga tiketnya yang 25 ribu per orang. Si B bukan orang yang sering menimbang-nimbang, maka dia memutuskan untuk maju terus pantat mundur. Si penjaga kereta yang perempuan tersenyum manis ketika melihat kita berdua bersiap-siap naik kereta. Semoga di dalam otaknya tidak terlintas pikiran macem2 yang bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan dua orang cowok keren2 ini di dalam kereta gantung berduaan. Amin. Husnudzon adalah hal terbaik yang dapat pembaca lakukan.

Dalam kereta bernomor 72, si B berandai-andai jikalau saja bukan saya yang sedang berada di sana bersamanya. Begitu pula sebaliknya. Gimana nggak? Menoleh ke samping, seorang pria sedang mendekap bahu pasangannya. Melihat ke bawah, muda-mudi bergandengan tangan. Melihat ke depan, keluarga bahagia sejahtera mencontohkan cara berkeluarga yang rukun, damai, tentrem, adem, ayem. Sedangkan aku? Berdua nggak jelas sama seorang laki2 yang baru dikenal 5 tahun yang lalu. Masing2 dengan kesibukannya menikmati panorama TMII dari ketinggian kereta gantung. Hingga akhirnya sebuah insiden membuat kami berdua sedikit ketakutan…

Kereta gantung berhenti! tidak berjalan! Aku lihat jam tanganku, masih 16.2x, belum waktunya TMII tutup. TMII tutup jam 17.00, tapi kenapa wahana ini sudah berhenti? Tidaaaak!!! Melihat ke bawah, angin sepertinya bertiup lebih kencang daripada sebelumnya. Tumpuan kereta gantung yang berbentuk ‘L’ atau ‘J’ tidak sempurna itu akan kehilangan tumpuan jika kereta bergoyang ke arah samping yang berkebalikan dengan tumpuan. Dan bisa dibayangkan, kalau angin semakin kencang, maka tidak mustahil angin bisa melepaskan tumpuan itu dan menyebabkan kereta itu (bayangkan hal2 yang mengerikan)… Andai saja dalam kereta itu adalah calon dari mama-nya anak2, mungkin ikatan kita akan semakin kuat. Forget it, mimpi di sore bolong…

Alhamdulillah, beberapa detik yang terasa agak lama kemudian wahana berjalan kembali. Setelah sampai di tempat perhentian yang juga merupakan tempat berangkat, si B bertanya pada si penjaga mengenai penyebab terjadinya accident tadi. Dengan ringan penjaga itu menjawab, “ada switch yang kesenggol.” Ya ampun Pak…, ‘senggolannya’ itu loh, bikin orang panik aja. Dalam perjalanan kaki kembali ke mobil, si B merencanakan bahwa suatu saat nanti ia akan mengajak calon mama-nya anak2nya untuk menemaninya ke TMII lagi. Hari itu dijadikannya sebagai ajang eksplorasi. Mungkin itu, sekilas kejadian menarik yang saya alami di hari minggu ini, selain munculnya Annisa Tribonowati beserta suaminya di pentas seni adik saya, kemenangan fantastis Stoner di 2 lap terakhir atas Rossi, dan juga berita kemenangan Rafael Nadal di final French Open 2007 atas peringkat 1 dunia versi ATP, Roger Federer.

Now, it’s time for me to sleep. Akhir kata, Wassalam.