Ayat-Ayat Cinta

Thursday, May 24th 2007

cover buku Ayat-Ayat Cinta

Akhirnya, selesai juga baca karya fiksi yang katanya masih merupakan masterpiece dari Habiburrahman El Shirazy sampai saat ini. Walaupun sudah ada novelnya yang baru Ketika Cinta Bertasbih 1 (KCB1), namun banyak orang berpendapat ceritanya tidak sekeren Ayat-Ayat Cinta (AAC). Well, saya sendiri tampaknya sependapat dengan kebanyakan orang. Cerita di AAC tidak serumit KCB1. Rasanya tidak perlu saya ceritakan kembali isi dari novel ini karena saya yakin hampir semua orang yang suka novel telah membacanya. Kalau belum, bacalah. Dan memang, saya terlambat membacanya. Tak apa lah terlambat, toh, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Buku yang saya baca adalah cetakan ke XXI (Maret 2007) setelah cetakan pertamanya telah diterbitkan Desember 2004 yang lalu. Tidak salah kalau ada cap Best Seller di covernya.

Seperti saya ketik katakan sebelumnya, bahwa cerita dalam novel ini tidaklah rumit. Penokohan seorang Fahri sangat mendominasi. Nasib Fahri terus berjalan seiring halaman berganti halaman. Fahri begitu saleh, wajar saja banyak pemudi yang menyukainya. Maria, Nurul, Aisha, dan Noura adalah sejumlah nama yang dalam novel tersebut dikisahkan menyukai Fahri. Mungkin pembaca akhwat juga menginginkan Fahri, jika dia ada di alam nyata ini. Tapi Fahri, apa yang dipikirkan mahasiswa S2 Al-Azhar itu tentang wanita? Hampir tidak ada, selain ibunya. Mungkin Nurul yang pernah membuat jantung sedikit berdetak lebih cepat ketika namanya didengar. Tapi perasaan itu pun juga sesegera mungkin coba dihilangkan olehnya. Hingga akhirnya Syaikh Utsman menyuruhnya untuk menikah dengan wanita yang dikenalnya di metro, barulah Fahri merasakan apa yang namanya cinta.

Cinta, deritanya memang tiada berakhir. Itu kata Pangeran Thian Feng alias Tie Pat Kay. Tapi itu lah yang terjadi di novel ini. Cinta membuat orang menderita. Seperti yang dialami Maria ketika tahu Fahri sudah menikah dengan Aisha. Atau Nurul, yang menyesali keterlambatannya menyatakan kecintaannya terhadap her first love. Lebih gila lagi si Noura, yang pernah menyatakan rela menjadi budaknya hingga pada akhirnya malah memfitnah Fahri. Cinta tidak pandang suku bangsa. Noura dan Maria adalah wanita Mesir, Nurul asli Indonesia, dan Aisha keturunan Jerman-Turki. Semuanya mencintai Fahri, putra Indonesia. Cinta tidak pandang agama. Seperti ketika Maria yang beragama kristen koptik mencintai Fahri yang seorang muslim. Rumit memang kalau bicara soal cinta, tidak semudah mengucapkannya. Bahkan untuk mencari saja, saya sampai sekarang belum menemukannya.

Yang saya sangat suka dari novel ini selain dari penyampaiannya yang mudah dipahami adalah pilihan kata-katanya yang indah luar biasa. Seperti cuplikan paragraf ini :

Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat di seluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang Maha Kuasa.

Wanita mana yang nggak terbang ke surga kalau dipuji seperti itu? Di samping itu, kita juga bisa mengambil pelajaran dari sisi romatis seorang Fahri. Bagaimana cara dia menggoda Aisha, merayunya, memanjakannya, dan mencintainya. Wow, so… romantic.

Sebuah novel pembangun jiwa, itulah sub judul yang tertulis di halaman cover. Cocok, karena sangat menginspirasi kita agar menjadi orang yang lebih baik. Tidak banyak yang bisa saya komentari selain memuji dan memuji sang penulis, dan pujian tertinggi kepada yang memberikan buah akal kepada sang penulis, Allah SWT.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.