Pudarnya Pesona Cleopatra

Monday, May 7th 2007

Pudarnya Pesona Cleopatra

Kali ini saya hanya ingin sedikit beropini, tidak ingin mengkritik seperti kritikus, tidak ingin berkomentar semengoceh komentator, mengenai buku yang merupakan cikal bakal novel Ayat-ayat Cinta. Karena, mungkin sebagian besar fansnya karya-karya tulis Kang Abik sudah tamat membaca 2 novel pendek yang tergabung dalam satu buku ini. Dan ada keraguan dalam diri saya untuk menceritakannya kembali dengan versi sendiri, alih-alih takut mengurangi daya psikologis yang dipancarkan oleh novel ini.

Sub judul yang dipakai oleh Kang Abik pada novelnya kali ini : Novel Psikologi Islami Pembangun Jiwa. Tidak terpikirkan sebelumnya, cara yang bagaimana yang akan digunakan oleh penulis dalam membangun jiwa pembacanya. Untuk novel pertama, Pudarnya Pesona Cleopatra, sebagai seorang melankolis yang suka beranalisis, saya menyikapinya seperti ini : Pembaca dibuat untuk menyelami perannya sebagai tokoh utama. Kemudian, tokoh utama digambarkan sebagai seorang lelaki yang mendewakan kecantikan di atas segala-galanya. Bagi kaum Hawa mungkin daya psikologisnya kurang menancap, tapi tidak bagi kaum Adam. Dan sepertinya (bahkan hampir pasti), itu lah yang ada di dalam setiap hati kecil seorang laki-laki. Pria mana yang tidak menginginkan istri yang cantik? Walaupun mungkin sebagian besar dari kita tidak memprioritaskan kecantikan sebagai prioritas nomor satu, tapi nomor nol. Pesan yang disampaikan oleh Habiburrahman sangat to the point. Bahkan salah satunya tertulis dengan sangat jelas :

“Padahal di zaman edan seperti ini mencari perempuan salehah lebih sulit daripada mencari perempuan cantik.” Terang Pak Susilo.

Tidak percaya? Pergilah ke mall-mall di mana pun di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Niscaya bukan hanya gadis seperti Mona Zaki (yang diceritakan dalam mimpi sebagai keponakan Cleopatra) saja yang bisa ditemui, mungkin kita berpikir wanita-wanita yang kita temui di sana adalah wanita-wanita keturunan ke sekian dari Cleopatra yang terdampar di Indonesia. Yah, keturunan Cleopatra yang nyasar ke Jakarta, Bandung, Ambon, dll. yang tersebar di negeri ini. Semoga para pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita ini. Mencari wanita salehah adalah prioritas, karena dialah yang akan membawa suaminya berbahagia dunia-akhirat. Yup, semoga dapat saya lakukan juga. Tapi kalau bisa yang cantik juga, yah, minimal kayak Raihana lah.. :P (teteup)

Untuk novel singkatnya yang kedua, Setetes Embun Cinta Niyala, saya pikir lebih cocok ditujukan untuk akhwat. Mengapa? Karena saya tidak dapat begitu memahami apa yang dirasakan Niyala sebagai tokoh sentral. Saya justru melihatnya secara global, bahwa yang perlu kita lakukan dalam posisi sulit adalah tetap bertawakal kepada-Nya. Pada kisah ini diceritakan di mana ketika nasib Niyala berada di ujung tanduk, Niyala tetap menggantungkan dirinya kepada Yang Maha Mendengar Doa Hamba-Nya. Solusi yang diberikan oleh penulis sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya. Benar. Bahkan ketika novel ini hampir selesai saya baca, saya masih berpikir, “Si Faiq ini beneran nggak sih?” Untungnya Kang Abik menenuntaskannya dengan begitu indah. Oh ya, jangan pernah membandingkan kandungan isi kisah fiktif Setetes Embun Cinta Niyala, dengan saingannya, sinetron Buku Harian Nayla. :D

Kalu mau baca review yang lain, mungkin bisa mampir ke sini.