Archive for May, 2007

Kampoeng Sawah

Friday, May 25th, 2007

Inilah hasil long weekend saya kemarin. Dalam perjalanan pulang dari Ciwidey, rombongan saya menyempatkan untuk mampir ke sebuah restauran. Ya, nama restauran itu sama seperti judul postingan kali ini, Kampoeng Sawah.

Mereka mencoba menawarkan suasana yang berbeda. Di sana kita bisa makan lesehan sambil memancing ikan yang ada di kolam. Menu di restauran ini seperti kebanyakan restauran masakan sunda lainnya. Gurame goreng/bakar, karedok, tumis2an sayur, cumi goreng tepung, dll. Dan ini lah menu lauk yang kami pesan :

Tidak ketinggalan, ini dia yang mereka bilang sebagai menu spesial mereka, Gurame Goreng Sambal saya lupa namanya :

Rasa? Enak, tapi kurang mak nyuuus… Harga? Sepertinya nggak jauh beda dengan restauran Sunda yang ada di Bandung. Maklum, bukan saya yang bayar :P

Ayat-Ayat Cinta

Thursday, May 24th, 2007

cover buku Ayat-Ayat Cinta

Akhirnya, selesai juga baca karya fiksi yang katanya masih merupakan masterpiece dari Habiburrahman El Shirazy sampai saat ini. Walaupun sudah ada novelnya yang baru Ketika Cinta Bertasbih 1 (KCB1), namun banyak orang berpendapat ceritanya tidak sekeren Ayat-Ayat Cinta (AAC). Well, saya sendiri tampaknya sependapat dengan kebanyakan orang. Cerita di AAC tidak serumit KCB1. Rasanya tidak perlu saya ceritakan kembali isi dari novel ini karena saya yakin hampir semua orang yang suka novel telah membacanya. Kalau belum, bacalah. Dan memang, saya terlambat membacanya. Tak apa lah terlambat, toh, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Buku yang saya baca adalah cetakan ke XXI (Maret 2007) setelah cetakan pertamanya telah diterbitkan Desember 2004 yang lalu. Tidak salah kalau ada cap Best Seller di covernya.

Seperti saya ketik katakan sebelumnya, bahwa cerita dalam novel ini tidaklah rumit. Penokohan seorang Fahri sangat mendominasi. Nasib Fahri terus berjalan seiring halaman berganti halaman. Fahri begitu saleh, wajar saja banyak pemudi yang menyukainya. Maria, Nurul, Aisha, dan Noura adalah sejumlah nama yang dalam novel tersebut dikisahkan menyukai Fahri. Mungkin pembaca akhwat juga menginginkan Fahri, jika dia ada di alam nyata ini. Tapi Fahri, apa yang dipikirkan mahasiswa S2 Al-Azhar itu tentang wanita? Hampir tidak ada, selain ibunya. Mungkin Nurul yang pernah membuat jantung sedikit berdetak lebih cepat ketika namanya didengar. Tapi perasaan itu pun juga sesegera mungkin coba dihilangkan olehnya. Hingga akhirnya Syaikh Utsman menyuruhnya untuk menikah dengan wanita yang dikenalnya di metro, barulah Fahri merasakan apa yang namanya cinta.

Cinta, deritanya memang tiada berakhir. Itu kata Pangeran Thian Feng alias Tie Pat Kay. Tapi itu lah yang terjadi di novel ini. Cinta membuat orang menderita. Seperti yang dialami Maria ketika tahu Fahri sudah menikah dengan Aisha. Atau Nurul, yang menyesali keterlambatannya menyatakan kecintaannya terhadap her first love. Lebih gila lagi si Noura, yang pernah menyatakan rela menjadi budaknya hingga pada akhirnya malah memfitnah Fahri. Cinta tidak pandang suku bangsa. Noura dan Maria adalah wanita Mesir, Nurul asli Indonesia, dan Aisha keturunan Jerman-Turki. Semuanya mencintai Fahri, putra Indonesia. Cinta tidak pandang agama. Seperti ketika Maria yang beragama kristen koptik mencintai Fahri yang seorang muslim. Rumit memang kalau bicara soal cinta, tidak semudah mengucapkannya. Bahkan untuk mencari saja, saya sampai sekarang belum menemukannya.

Yang saya sangat suka dari novel ini selain dari penyampaiannya yang mudah dipahami adalah pilihan kata-katanya yang indah luar biasa. Seperti cuplikan paragraf ini :

Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat di seluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang Maha Kuasa.

Wanita mana yang nggak terbang ke surga kalau dipuji seperti itu? Di samping itu, kita juga bisa mengambil pelajaran dari sisi romatis seorang Fahri. Bagaimana cara dia menggoda Aisha, merayunya, memanjakannya, dan mencintainya. Wow, so… romantic.

Sebuah novel pembangun jiwa, itulah sub judul yang tertulis di halaman cover. Cocok, karena sangat menginspirasi kita agar menjadi orang yang lebih baik. Tidak banyak yang bisa saya komentari selain memuji dan memuji sang penulis, dan pujian tertinggi kepada yang memberikan buah akal kepada sang penulis, Allah SWT.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Berbagi Suami

Monday, May 21st, 2007

Salma, seorang dokter spesialis kandungan separuh baya, tidak pernah menyangka kalau suaminya telah menikahi perempuan lain tanpa sepengetahuan dia. Tidak terima. Mungkin itu yang ada dalam pikiran wanita yang dinikahi Pak Haji, yang merupakan tokoh masyarakat dan juga caleg. Namun, Salma adalah wanita yang tegar. Lambat laun ia mulai bisa menerima keadaannya sebagai istri yang dipoligami. Nadim, anak semata wayangnya, adalah salah satu alasan yang membuat Salma bisa begitu ikhlas. Hingga akhirnya Pak Haji meninggal, Salma baru tahu ternyata istri dari suaminya itu bukan hanya dirinya, Indri, dan Ima. Ya, Pak Haji ternyata pernah memiliki 4 orang istri selama hidupnya.

Siti, gadis Jawa kontemporer, datang ke Jakarta bersama Pak Lik-nya (Pak Lik = Paman) demi cita2nya untuk penghidupan yang lebih baik. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama Pak Lik-nya itu, kedua istrinya (Sri dan Dwi), dan anak2 mereka. Siti adalah khas seorang wanita Jawa sing terbiasa rekoso. Dia membantu kedua istri Pak Lik-nya mengurusi anak2 mereka dan urusan rumah tangga lainnya. Dan ternyata Pak Lik-nya memendam perasaan terhadap Siti. Ia kemudian menikahi Siti, dengan persetujuan kedua istrinya yang telah menganggap Siti seperti adik sendiri. Siti bukanlah istri terakhir Pak Lik-nya. Setelah Pak Lik-nya pergi bekerja ke Aceh, ia membawa pulang seorang istri lagi ke rumahnya. Ada yang mengusik batinnya, sehingga Siti memutuskan untuk meninggalkan rumah Pak Lik-nya.

Di sebuah restoran bebek panggang langganan Pak Haji dan Salma, seorang gadis keturunan Tionghoa bernama Ming adalah primadonanya. Ming bekerja sebagai pelayan di tempat itu. Bagaikan magnet, ia menarik pengunjung untuk datang ke restoran itu di samping menu bebek panggang yang memang sudah terkenal. Banyak yang menyukai Ming, tidak terkecuali Koh Abun si pemilik restoran. Tanpa sepengetahuan istrinya, Linda, Koh Abun meminta Ming untuk dikawini. Ming pun setuju dengan persyaratan seperti, apartemen, mobil pribadi, dll. Ada pun Ming memiliki keinginan lain untuk menjadi seorang artis. Firman, seorang pria yang pernah dekat dengan Ming, memberikan secercah harapan untuk mewujudkan mimpi Ming. Sayang, harapan tinggal lah harapan. Impian Ming tidak kesampaian, dan Koh Abun beserta keluarganya pindah ke Amerika.

Ketiga cerita di atas tersaji dengan baik di filmnya Nia Dinata setahun yang lalu, Berbagi Suami. Dari judulnya memang mudah ditebak kalau tema yang diambil adalah tentang poligami. Ya… poligami, tema yang sulit untuk dibahas, banyak yang kontra dan sedikit yang pro. Dalam film ini, poligami disorot dari berbagai sudut pandang. Dari pandangan laki-laki, ada yang melihatnya untuk menghindari zina seperti yang Pak Haji lakukan, atau hanya sebagai pemuas nafsu seperti yang dilakukan Pak Lik dan Koh Abun. Sedangkan dari sudut pandang wanita, poligami dilihat sebagai cara untuk membahagiakan suami, atau hanya menginginkan materi si suami, atau karena memang adanya rasa ingin memiliki. Oke, saya stop saja pembicaraan tentang poligami ini daripada daripada… Adalah aliran cerita dari film ini yang membuatnya semakin menarik untuk ditonton. Cerita tentang Salma, Siti, dan Ming memang terpisah, namun mereka bertemu di satu titik dalam kehidupan mereka. Untuk film ini, saya memberikan nilai 4/5.

Official site : http://www.kalyanashira.com/berbagisuami/indo.htm

Ingin Treble Dapatnya Single

Sunday, May 20th, 2007

Nasib.. nasib.. mau diapain lagi? Memang harus diakui kalau tadi malam Chelsea sedikit lebih beruntung daripada MU. Kalau saja Giggs bisa mengarahkan bola ke sisi kosongnya Cech, paling tidak ManU bisa dapat 2 gelar di musim ini. Tapi gol-nya Chelsea di menit 115 itu memang fantastis. Lahir dari sebuah kerjasama apik antara Obi Mikel, Lampard, and Drogba. Mikel mengoper lurus pada Drogba, dengan satu sentuhan striker Pantai Gading itu melakukan passing one-two dengan Lampard, dan tanpa kesulitan Drogba menyentuh bola dan menggulirkannya untuk menghindari hadangan Van Der sar yang datang menghadang dan…

Gol Drogba ke gawang Van Der Sar

Plung.. 1-0 untuk Chelsea.

Seperti perkiraan ketika melihat starting line-up, ManU tampaknya lebih memilih bermain aman. Dengan menumpuk 5 pemain gelandang di tengah, sepertinya ManU ingin menggunakan taktik serangan balik yang cepat dari Rooney atau Ronaldo. Sayang, Chelsea tampil dengan disiplin tinggi sehingga menyulitkan ManU untuk menerobos pertahanan yang dikomandani Terry dkk. Alhasil, sentuhan magis Ronaldo jarang keluar, dan Rooney pun sering terjebak offside. Seperti ingin mengulangi keajaiban, di akhir2 pertandingan Sir Alex memasukkan si muka bayi, Solskjaer. Namun sudah terlambat, tambahan waktu 3 menit tidak merubah skor akhir.

Yah, lihat sisi baiknya saja lah. Musim ini setidaknya ManU sudah bisa meraih gelar walaupun cuma satu. Kaya’nya butuh stok pemain muda nih musim depan, biar bisa dapet treble lagi..

Foto diambil dari :
http://www.bolanews.com/ole_internasional/13821.php

Dermawati Bernama Oprah

Wednesday, May 16th, 2007

Kalau sabtu malam kemarin Anda sempat mengarahkan channel TV Anda ke Metro TV, maka Anda akan menyaksikan sebuah tontonan tentang kedermawanan. Wanita terkaya di dunia, Oprah Winfrey, sedang membahas hasil ‘bagi-bagi uang’-nya uang dibagikan kepada pemirsanya di beberapa episode sebelumnya. Di mana ketika itu ia memberikan 1.000 USD dan sebuah handycam per orang kepada 314 pemirsanya yang hadir dalam acara talk-shownya hasil kerjasama dengan Bank of America. Setiap orang diberikan kebebasan dalam menggunakan uang itu untuk berbuat baik kepada orang yang tidak dikenalnya. Dan tidak menutup kemungkinan, para penonton tersebut menggunakannya untuk kepentingan pribadi, dengan kata lain, dikorupsi.Namun apa hasilnya? Macam-macam, tergantung kreatifitas individu. Ada yang menjadikannya modal berkampanye untuk menarik simpati, dan kemudian menghasilkan 60 ribu USD, 71 ribu USD, bahkan ada yang mencapai 200 sekian ribu USD. Tujuan berkampanye yang mereka lakukan juga berbeda-beda, ada yang bertujuan membantu keluarga yang kurang mampu, ada juga yang membantu panti-panti perempuan, dsb. Hal yang paling sederhana adalah langsung memberikan uang tersebut kepada orang lain yang langsung ditemuinya, seperti pengantar makanan delivery service, pengemis jalanan, tukang pos, dll. Seorang guru olahraga malah menggunakan uang itu untuk membelikan sepatu basket kepada semua muridnya yang ikut ekskul basket. Seorang wanita memberikan berbagai jenis buku kepada seorang kakek yang sedang menikmati ‘masa baru bisa membaca‘ karena tidak pernah sekolah semasa kecilnya akibat menghidupi adik-adiknya. Ketika para penonton yang dermawan itu ditanya tentang perasaannya ketika memberi, kebanyakan dari mereka berkata, Wonderful!

Ya, begitulah nikmatnya memberi. Bukan memberi untuk ria, namun memberi untuk membuat orang lain bahagia. Dan kebahagiaan itu akan mudah menular pada siapapun di sekitarnya. Yang memberi bahagia karena yang diberi bahagia. Jika pembaca pernah mengikuti training atau pernah membaca tentang ESQ-nya Pak Arry Ginanjar, ada satu prinsip yang diambil dari rukun iman, iman kepada malaikat, yaitu Angel Principle. Diajarkan di sana bagaimana caranya berbuat baik seperti halnya malaikat. Berikan, kemudian lupakan. Mudah diucapkan, mudah ditulis, namun sangat sulit dilakukan. Perlu latihan dan kerja keras untuk berbuat ikhlas, terutama untuk yang belum biasa berderma.

Kembali lagi ke Oprah. Pagi harinya, saya membaca koran yang memberitakan bahwa wanita bernama Oprah itu adalah orang yang paling dermawan sedunia menurut sebuah survey yang dilakukan di Amerika. Sekitar 58,1 juta USD (apabila dikurs ke rupiah dengan nilai 1 USD = 8800 IDR, maka sumbangannya sama dengan 511,28 milyar Rupiah) telah dihabiskan untuk membantu siapapun yang dianggapnya membutuhkan. Pantas saja, dalam talk-shownya itu dia terlihat tidak begitu terkejut mendengar uang 200 ribu yang berhasil dikumpulkan oleh pemirsanya, karena dibandingkan dengan yang telah ia sumbangkan, itu belum ada 1 persennya. Oprah bukanlah seorang muslimah, namun telah banyak harta yang ia korbankan untuk kebahagiaan orang lain. Apa motivasinya? Hanya Yang Maha Tahu yang mengetahui. Namun perkiraan saya mengatakan, secuil kisah masa lalu Oprah yang kelabu adalah latar belakangnya. Seandainya saja Oprah seorang muslimah.