Ketika Cinta Bertasbih

Saturday, April 28th 2007

Ketika Cinta Bertasbih

Novel dengan nafas Islami karya Habiburrahman El Shirazy ini benar-benar membuatku terhipnotis sejak kemarin. Entah kenapa, seorang yang sebenarnya sangat sangat sangat malas membaca ini tiba-tiba bisa mengkhatamkan buku setebal 470 sekian halaman (termasuk prolognya) dalam 2 hari. Novel dwilogi yang ditulis sejak 20 Juli 2005 dan baru selesai 22 September 2006 ini membawa kita kepada kehidupan para mahasiswa yang belajar di Mesir. Tidak heran karena penulisnya sendiri memiliki background pendidikan di Al-Azhar University Cairo. Maka jangan heran apabila sepertinya beliau sangat hafal mengenai nama jalan, budaya, makanan-makanan khas Mesir, bahkan nomor bus berikut tujuannya, seperti yang ditulis dalam novelnya.

Pemuda kurus namun pekerja keras yang menjadi tokoh utama dalam novel ini bernama Azzam. Sudah 9 tahun lamanya ia belajar di negerinya Nabi Musa. Bukan karena bodoh ataupun malas yang menyebabkan ia tidak lulus dengan segera. Namun pilihannya untuk menjadi penyokong tulang punggung keluarganya lah yang membuat ia harus merelakan waktunya untuk terbagi, antara kuliah dan bekerja. Hal itu disebabkan oleh kepergian Ayahnya menemui Sang Khalik setelah 1 tahun Azzam meninggalkan Indonesia. Bekerja sebagai entrepreneur di bidang kuliner pun dilakoninya dengan membuat tempe dan bakso, dan sesekali menerima jasa katering. Itu semua demi mencukupi kebutuhan Ibu dan ketiga adiknya.

Berbeda 180 derajat dengan Azzam, Furqan, yang merupakan teman sepesawat Azzam ketika berangkat dari Indonesia, dikisahkan sebagai seorang mahasiswa S2 yang kaya, cerdas, tampan, hingga tidak ada alasan untuk wanita mana pun menolak pinangannya. Namun di tengah cerita, ia mendapatkan cobaan yang paling berat selama hidupnya. Bahkan lebih berat daripada kematian. Ada lagi tokoh bernama Fadhil. Mahasiswa Aceh yang seatap dengan Azzam ini mengalami dilema begitu dahsyat dalam masalah yang paling sensitf bagi manusia, yaitu masalah hati, atau dengan kata lain, masalah cinta. Ketiga karakter ini lah yang terasa begitu kental mewarnai karya Kang Abik kali ini.

Tidaklah indah kebun tanpa bunga, dan tidaklah indah cerita tersebut tanpa kehadiran tokoh wanita. Selalu dan selalu saja penulis ingin membawa saya untuk membayangkan betapa cantik-cantiknya wanita yang dikisahkan dalam novel tersebut. Sebut saja Eliana, putri Dubes Indonesia untuk Mesir yang parasnya cantik nan mempesona, cerdas, dan gaul. Anna Althafunnisa, tidak kalah cantik dengan Eliana dan bukan hanya luarnya saja yang cantik, kecerdasan, perilaku dan tutur katanya semakin menambahkan sinar kecantikan putri Pak Kyai itu. Adik Fadhil, Cut Malahayati, juga digambarkan oleh penulis sebagai wanita yang manis dan juga cantik yang pernah menjuarai MTQ tingkat nasional. Subhanallah.. Ya Allah, tidak perlu Engkau memberikan ketiga gadis seperti itu kepadaku, cukup satu saja.. (mohon pembaca mengaminkan :-))

Well, kisah Azzam belum selesai hingga buku ini selesai ditulis. Siapa jodohnya Azzam kelak? Bagaimana nasib Furqan? Apakah Fadhil menemukan dambaan hatinya yang baru? Dan siapakah lelaki beruntung yang bisa mendapatkan Anna dan Mala? Maka dengan sangat sabar, saya akan menantikan sekuel dari buku ini.