Kejamnya Teknologi

Saturday, April 14th 2007

Sabtu, empatbelas april duaributujuh, di rumah (baca:Ciputat). Ternyata stupidity, atau (dengan bahasa yang lebih halus) kekhilafan, bisa juga menghinggapi jebolan perguruan tinggi negeri yang notabene paling ampuh teknologinya seantero Indonesia (sombong mode: ON). Sepulang dari tenis, rencananya mampir ke Aquarius blok M terus beli blenger burger buat adik. Nasib naas terjadi setelah selesai beli cd di Aquarius. Ada cd baru, langsung pingin didengerin dong tentunya. Kebetulan cd changer-nya ada di bagasi. Henpon, dompet, dan kunci mobil terpaksa digeletakkan begitu saja di bagasi sambil masukin cd2 baru tersebut ke cd changer. After finished, dompet dan henpon tadi kuambil, bagasi pun langsung kututup. Begitu mau buka pintu, eh ternyata udah terkunci. Kucari saja di antara barang2 yg kubawa tadi. Hah?! cuma ada henpon n dompet. Kuncinya…? :(( Terpaksa harus nunggu bantuan kunci serep dari rumah.

Tadi itu sekedar intermezzo. Yah, lumayan buat berbagi penderitaan. Jadi ceritanya lagi ingin punya henpon 3G (baca:triji), tapi sebelum membeli, alangkah baiknya kalo survey2 dulu. Maklum, henponku yang sekarang (Nokia 7710) cuma support EDGE, yang entah sampai sekarang teteup nggak bisa make EDGE-nya, dan cuma memanfaatkan fitur GPRS yang muahal banget harganya itu hanya buat chatting dengan Agile Messenger, dan sesekali browsing2 gak penting. Survey paling gampang menurutku adalah beli tabloid. Wow! ternyata handheld yang support HSDPA 3,6Mbps udah ada. Ini sih bukan masuk kategori 3G lagi yang cuma bisa transfer data 384kbps, tapi udah masuk 3,5G. They are Dopod D810 and Samsung Z560. 2 barang itulah yang kuketahui berdasarkan survey baca2 tabloid PULS* edisi 29 Maret – 11 April 2007. Harganya beda jauh, beli dopod 1 bisa dapet samsung kira2 1,75-nya, dan harga samsung pada saat itu adalah 3,975 juta rupiah. Realistis, karena dopod memposisikan dirinya dalam kategori smartphone yang dibekali wi-fi serta fitur2 office. Belum lama setelah itu, aku lihat ada iklan billboard gede banget di daerah ujung Jl.Jend.Sudirman yang mempromosikan keluaran nokia yang paling canggih (menurutku) sampai saat ini, Nokia N95. Hasil pencarian di internet menemukan adanya pedagang yang menjual barang tersebut seharga 10 juta rupiah.

Hari ini sambil menunggu bantuan kunci serep (masih menyambung paragraf 1) saya membeli tabloid itu lagi edisi minggu ini. Ternyata harga distributor untuk N95 adalah 8,45 juta saja (masih mahal). Halaman pertama tabloid itu tidak bisa membohongi begitu pesatnya perkembangan teknologi. Satu lagi varian henpon yang telah dilengkapi fitur HSDPA, sebut saja Motorola V6. Sehabis magrib tadi aku iseng2 baca GATR*, yang kubaca ini edisi 12-18 april 2007, jadi masih fresh beritanya. Majalah yang komplit, membicarakan gelapnya bea-cukai pelabuhan, anak yang kepinteran tapi kurang normal, sampai binatang menggonggong yang (maaf) birahi waktu ikutan kontes (mungkin dalam penglihatan mereka ada juga istilah cantik dan seksi kali ya), dan gadget2 teranyar. Well, ternyata yang kubaca tadi siang itu tadi seperti berita jaman baheula. Ada lagi nih produk paling gress dari samsung yaitu F700 yang menawarkan akses HSDPA, 7,2Mbps!! Wuedan tenan ki..

Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini adalah :

Satu, sekuat apa pun Anda ingin mengikuti tren teknologi, Anda tak akan bisa. Sebab teknologi selalu berlari lebih cepat.

Dua, kejamnya teknologi adalah membuat kita merasa membutuhkannya dan bergantung kepadanya. Kita bisa dihipnotis oleh kemampuannya yang serba wah, sehingga kita dibutakan dengan sejumlah uang yang harus kita bayar.

Fyuuuuh #:-S, cukup dulu deh…