Patas AC Kurang Oxy

Tuesday, April 10th 2007

Senin, 9/3/2007. Raplaz (Ratu Plaza), Senayan, Jakarta. Di siang bolong yang panasnya ampun2an, pastinya klop dong kalo naik angkutan yang ber-AC. Dan dari Raplaz ke Ciputat memang ada 2 alternatif angkutan umum yang ber-AC, yaitu Patas AC 76 (Ciputat-Senen) sama Patas AC 57 (Ciputat-Gajahmada). Karena ada 2 alternatif itu maka kupilih aja yang dapet duluan. Nggak lama setelah nyebrang jembatan yang ada halte busway-nya, akhirnya jemputan pun tiba, Patas AC 76. Dari sekilas penampakannya dari luar, bus itu terlihat penuh sih, tapi kan AC, jadi ya nggak panas2 banget kali ya. Ternyata..

Baru beberapa menit setelah bus itu jalan dari perhentiannya di tempat aku naik, seorang Bapak berumur kira2 40-an menyerah keluar dari bus, padahal naiknya bareng. Mungkin (hampir pasti kaya’nya) karena panas, pengap, desek2an, dan kurang oksigen, ditambah lagi parfum keringat yang baunya 7 rupa dari para penumpang. Parah banget lah pokoknya. Kayaknya selama naik bus, baru kali ini merasakan pengalaman seperti itu. Gimana nggak desek2an coba? Bus yang kapasitasnya cuma sekitar 60-70 orang, dijejali sampai seratus lebih (menurut statistik probabilitas perhitungan sementara), atau mungkin lebih banyak dari kapasitas Boeing 737-400 (kapasitas 124 penumpang) yang dipakai GIA (Garuda Indonesia Airline) untuk mengantarku ke Surabaya hari Sabtu kemarin. Sabtu kemarin (7 April 2007) itu memang menjadi hari bahagia buat temanku Adam, elektro 2001. Dia berhasil menikahi seorang calon dokter gigi dari UI. Tapi sayangnya, temen2nya dari FKG UI malah nggak ada yang ikut. Pupus sudah harapan buat menemukan jodohku di sana (halah, dasar jomblo..).

Balik ke persoalan bus tadi. In my humble opinion, mungkin bus itu lebih cocok kalo ditanami tanaman2 yang lebih membutuhkan karbondioksida daripada manusia. Lumayan kan, hasil fotosintesis tanaman itu (oksigen) bisa dihirup penumpang, dan karbondioksida hasil pernafasan penumpang bisa dipakai tanaman untuk fotosintesis, mutualisme, tidak ada yang dirugikan. Lebih parah lagi karena tidak ada jendela yang dibuka di kendaraan itu dan hanya mengandalkan AC yang nggak dingin sama sekali dan lebih pantes disebut Angin Cepoi-cepoi daripada Air Conditioner. Kalo keadaannya kaya’ gini terus2an, bisa2 aku juga ingin menyerah saja dan ganti naik taksi yang tentunya lebih lega, lebih dingin, dan lebih MAHAL. Tapi semangat pantang menyerah yang telah terbina semenjak Ospek (halah, nggak penting), membuatku lebih memilih hidup hemat daripada hidup sehat.

Desek2an yang sangat parah di bus itu membuatku sedikit geli ketika (maaf) pant*t saling bergesekan jika ada penumpang yang baru masuk atau mau turun. Si kondektur bus dan supir yang selalu memaksakan untuk mengangkut setiap penumpang yang ditemuinya membuatku kesel dalam hati. 2 orang ini nggak mikir apa ya? Bus udah penuh kaya’ gitu, masih aja dimasukin orang. Tapi di dunia ini memang ada keseimbangan. Selain 2 orang tersebut yang hanya memikirkan duit setoran dan masalah perut, ada juga orang yang masih bisa berbuat baik. Salah satunya adalah mbak berjilbab dan berbaju merah jambu yang duduk di dekatku (dan aku masih berdiri). Dia menawarkan kepadaku untuk menitipkan barang yang baru saja kubeli dari Raplaz, sebuah casing HD eksternal buat hard disk ku yang isinya koleksi j-dorama, kepadanya. Memang barang itu agak mengganggu karena ukurannya yang tidak kecil. Yah, karena dia sudah menawarkan, aku nggak bisa menolaknya. Ada lagi ibu2 yang memberikan tempatnya untuk memberi ruang kepada seorang ibu yang anaknya muntah di dalam bus. Oh ya, kemarin ini aku barusan menjawab teka-teki seperti ini : 9 P dan 1 A pada W. Dan dalam beberapa tebakan saja, aku bisa menjawabnya : 9 perasaan dan 1 akal pada wanita. Bahkan temenku aja terheran-heran seperti ini,

T P (4/10/2007 4:47:35 PM): yang 9P dan 1A ko bisa2nya tau?
T P (4/10/2007 4:47:38 PM): dari mana tuh?
Wijayanto BS (4/10/2007 4:48:04 PM): nebak aja
T P (4/10/2007 4:48:11 PM): gila…
Wijayanto BS (4/10/2007 4:48:14 PM): emang ada perumpamaan kayak gitu

Mungkin itu sebabnya, kenapa nggak ada supir bus dan kondektur perempuan. Karena mereka punya perasaan.