June 21st, 2009
Gagal rencana jalan-jalan ke Hualien. Karena menurut gosip dan informasi dari website yang kurang terpercaya, taifun akan lewat di sebelah barat Taiwan di akhir minggu ini, dan hujan deras bakal mengguyur daerah barat, tengah, selatan, bahkan utara. Untuk mengobati sakit hati, saya langsung meluncur ke website turisme-nya Taiwan. Ternyata, mulai minggu ini ada Taipei International Jazz Festival. Langsung deh sorenya jalan ke Zhong-Shan Hall Plaza.

TIJF 2009 at Zhong-Shan Hall Plaza

Remi Panossian at TIJF 2009

Julie Duthu at TIJF 2009
Ternyata 2 hari (Sabtu-Minggu) ini Taipei sangaaaaaaat cerah… semoga di Hualien sana memang hujan deras.
June 11th, 2009

£80 million = Rp 1,335 trilyun

£56 million = Rp 938 milyar
Siapa lagi, Madrid?
source : http://news.sky.com/skynews/
June 1st, 2009

Sun Moon Lake
Selain mulut, semua organ tubuh ini adalah makhluk yang jujur. Seperti perut misalnya. Perut tidak bisa berbohong atau dibohongi, dia akan protes jika haknya tidak diberikan. Malam itu aku meninggalkan penginapan di tepi Danau Matahari dan Bulan untuk membungkam bunyi-bunyian dalam perutku ini. Tujuh-Sebelas, kapan pun di mana pun selalu bisa menjadi pilihan terakhir saat warung-warung pasar malam di sekitar danau sudah menutup rapat pintunya. Sepotong pizza super seafood yang tidak pernah kutemukan di Seven-Eleven mana pun, kurasa cocok untuk mengganjal lambungku. Pilihan tepat ternyata, cocok di lidah, kenyang di perut, ringan di kantong, nyaman di hati. Oke, aku harus jujur, bukan hanya sepotong pizza tapi juga ditambah sepotong kue dan juga cokelat panas Barista dengan marshmallow yang mengapung-apung di atasnya. Si cokelat kehilangan dua potong temannya setelah beberapa menit di dalam mini market itu, yang tersisa tinggal lah bungkusnya. Kasihan dia, sendirian. Kuajak saja dia menikmati dinginnya angin danau di malam hari.
Bersama segelas cokelat, tubuh ini duduk di sebuah kayu panjang tepat menghadap danau. Dan dimulailah parade random thought. Pikiran-pikiran acak bermunculan. Berlari-lari di kepala. Menari-nari sesuka hati. Timbul lalu tenggelam. Andaikan pena imajinasi menuliskannya, mungkin sebuah novel “Angan dan Harapan Seorang Jaya” dengan seketika terbit di malam itu juga. Dukungan kelap-kelip ribuan bintang di angkasa membuatnya semakin menggila dan menjadi-jadi. Ditambah lagi rangsangan dari cahaya Sang Rembulan yang juga sangat cantik malam itu, walaupun bukan purnama. Suasana di tepi danau di malam itu memang paling cocok guna mengumbar mimpi di kala tersadar, sambil menunggu kantuk yang tak kunjung datang. Satu kata, sempurna. Kontemplasi kah itu namanya? Atau bengong lebih tepatnya? Muhasabah sedikit banyaknya.
Seperempat abad bukan lah waktu yang lama ketika kita telah melaluinya. Setidaknya, menurutku begitu. Bill Gates sedang semangat-semangatnya membesarkan bisnisnya di seperempat abadnya. Begitu juga sang rival Steve Jobs yang terus mengembangkan Apple-nya yang telah dibentuk empat tahun sebelum seperempat abadnya. Duet Larry Page dan Sergey Brin mendirikan bisnis raksasa Google di umur peraknya. Masih banyak lagi tentunya nama-nama hebat dengan segudang prestasi hebat yang telah dicapai di umurnya yang seperempat abad. Namun yang paling menjadi perhatianku adalah keteladanan Rasulullah di umur dua puluh lima. Manusia paling sempurna di dunia menyempurnakan separuh agamanya. 150% sempurna.
Wondering what will happen in my life for the next one year…
May 19th, 2009
Stay tune di radionya anak bangsa, satu cinta, satu Indonesia… 

May 4th, 2009
Perjalanan di akhir minggu kemarin sedikit banyak membuat saya mengerti cara menikmati traveling di pulau yang kecil ini. Yang dulu kala bangsa Portugis menyebutnya Ilha Formosa atau Pulau yang Indah. Cuma satu resepnya, jangan over expectation. Jangan berharap sesuatu yang wow! atau yang wuih! Turunkan ekspektasi hingga pada level cukup bagus atau, cukup menarik. Karena hanya dengan cara itu traveling kita tidak akan terasa sia-sia. Mengapa? Dengan meminjam istilah dalam bahasa gaul, maka saya akan menyebutnya… lebay.
Tempat-tempat wisata di Taiwan bukannya tidak menarik. Beberapa bahkan sangat menarik seperti Taipei 101 dengan teknologi penahan gempanya, atau National Palace Museum yang menjadi saksi bisu cerita sejarah Cina. Namun kalau sudah bicara tentang wisata yang berhubungan dengan alam, bersiaplah untuk menerapkan resep saya di atas. Kecuali jika tujuannya untuk menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga, dan tidak menghiraukan tentang bagaimana keindahan yang ditawarkan oleh obyek wisata di tempat tujuan.

morning view at Xi-Tou
Sabtu kemarin rombongan NTU-ISIS dan NTU-FSA melakukan 2 days trip ke Xi-Tou/Chi-Tou/溪頭. Tujuan utamanya adalah “The National Taiwan University, College of Bioresources and Agriculture, Experimental Forest”. Hutan percobaan seluas 32.781 ha ini memanjang dari utara ke selatan. Sungai Chen-Yu-Lan membatasi bagian timurnya, sedangkan gunung Lin-Tou dan gunung Chang-Kong-Lun membatasi sebelah baratnya. Variasi ketinggiannya dibatasi oleh aliran sungai Chou-Shui pada 220 m di atas permukaan laut, sebagai batas bawahnya. Puncak gunung Morrisin (YuShan) pada ketinggian 3.952 m menjadi batas tertinggi Experimental Forest tersebut.
Banyak site-site yang mereka tawarkan untuk dinikmati keindahannya. Sayangnya karena keterbatasan waktu, maka hanya ekspedisi kunang-kunang di malam hari, giant tree yang berumur lebih dari 3000 tahun, bamboo cottage, dan university pond yang sempat dijelajahi.

the villa where we stayed at

a bird on the tree in the morning

the map and our routes

the path and direction

the giant (dying) tree

the university pond