Thesis Dissertation: The Implementation of E-commerce on Batik Business for Truntum Batik Brawijaya

Tuesday, September 29th 2015

ABSTRACT

The creative economy of Indonesia has become a hot topic in recent years. Along with the recognition of Indonesian batik by UNESCO in 2009, the phenomenon has successfully induced the reborn of batik industries. In 2012, a micro-enterprise named Truntum Batik Brawijaya was established to revive Indonesian batik industries. After second year of running, Truntum still has not met the expected growth in sales and profits.

On the other hand, e-commerce brings new opportunity for a company to grow their market. This thesis aims to examine whether e-commerce can be used by Truntum as the alternative solution to improve their business performance. Internal and external studies was performed in this research. The internal study was done to find the root cause, weaknesses, and strengths of Truntum as a business unit. The external study was then executed to know the response of potential customers regarding e-commerce platform specializing in traditional batik cloths. The external study was conducted through literature review, interviews, and questionnaire survey. The result shows that e-commerce platform can be used as a feasible business solution for Truntum.

In order to ensure the platform works, the next step is constructing the value propositions which would be transformed into business model canvas. The e-commerce platform was built and implemented based on the business model canvas. In the implementation step, PDCA (Plan-Do-Check-Act) method was employed so the system could be updated frequently in order to fulfill customers’ needs.

Keywords : Batik, Business Model Canvas, E-commerce, PDCA


 

ABSTRAK

Menghangatnya industri kreatif Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dan juga pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia pada tahun 2009, membuat bisnis batik menemukan kembali gairahnya. Di tahun 2012, sebuah usaha mikro bernama Truntum Batik Brawijaya didirikan dan ikut meramaikan bisnis batik di tanah air. Selama 2 tahun berjalan, Truntum tidak kunjung mengalami pertumbuhan penjualan maupun profit yang ditargetkan. Di sisi lain, perkembangan e-commerce memberikan peluang baru bagi perusahaan untuk dapat mengembangkan pasarnya.

Tesis ini bertujuan untuk memeriksa apakah e-commerce dapat digunakan sebagai alternatif solusi bagi Truntum untuk dapat memperbaiki kinerja bisnisnya. Studi internal dan eksternal dilakukan pada penelitian ini. Studi internal dilakukan untuk mengetahui akar masalah yang terjadi, dan juga kelemahan dan kekuatan Truntum. Studi eksternal dilakukan untuk dapat melihat reaksi calon pelanggan terhadap e-commerce yang khusus menyediakan kain-kain batik tradisional. Studi eksternal ini dilakukan melalui literatur, wawancara, dan juga survei dengan kuesioner. Hasilnya studi menunjukkan bahwa Truntum dapat menggunakan e-commerce sebagai solusi bisnisnya.

Agar solusi ini berjalan dengan baik, maka langkah berikutnya adalah merancang value-proposition yang kemudian diterjemahkan secara rinci pada business model canvas. Dengan berbekal business model canvas tersebut, sistem e-commerce Truntum diimplementasikan. Dalam implementasi e-commerce ini juga dilakukan metode PDCA (Plan-Do-Check-Act) agar sistem yang telah dibangun dapat terus diperbarui sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.

Kata kunci : Batik, Business Model Canvas, E-commerce, PDCA


Download Now

 

Jerry dan Sepeda

Friday, October 3rd 2014

Serah terima buku On White langsung dari dan oleh Jerry Aurum

Pernahkah kamu di suatu saat, dan di suatu waktu, terlalu menginginkan sesuatu? Hingga kemudian sesuatu itu menjadi kepikiran terus, berhari-hari, bermalam-malam. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang mencegah atau menghalangi kamu mendapatkan sesuatu itu. Tapi karena keinginanmu mendapatkan sesuatu itu begitu kuatnya, hingga alam beserta semua elemen dan komponennya berkonspirasi membantumu untuk mendapatkan sesuatu itu. Dan penghalang itu, akhirnya tidak berdaya menahan konspirasi alam. Kejadian itu, oleh Prof. Yohanes Surya disebut Mestakung. Semesta Mendukung. Dan foto gw di atas bersama Jerry, bisa disebut merupakan hasil dukungan semesta.

On White, proyek buku ke-4 dari Jerry Aurum itu sebenarnya sudah gw pesan sejak 17 September 2014 via email. Entah kenapa gw merasa harus memiliki buku itu. Buku yang menurut gw cukup unik, sekaligus cukup biasa aja. Mungkin saja karena gw cukup mengikuti bagaimana proses Jerry melakukan proyek ini dari video-video Youtube yang dia unggah di kanalnya. Gw juga cukup mengikuti kiprahnya di dunia fotografi Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Ditambah lagi dalam beberapa bulan belakangan gw cukup intens ngubek-ngubek profil dia buat sebuah tulisan.

Hari Sabtu, 27 September 2014, Jerry mengadakan workshop yang juga merupakan rangkaian acara launching buku On White tersebut, di sebuah mal di Jakarta. Nggak bisa dan nggak boleh nggak hadir, kata hati gw. Acaranya mulai jam 3 sore, tapi gw baru gabung sekitar setengah 4. Workshopnya menarik, dia cerita tentang behind the scene dari foto-foto On White. Dia cerita tentang fotonya Raisa sama koper-kopernya, /rif, Achmad Albar, Tompi, Vicky Shu, Cathy Sharon, Titi DJ, Ahok, Mathias Muchus, BE3, itu sih yang gw inget. Setelah sharing BTS On White, workshop berlanjut ke motret Vicky Burki yang akan pole dance. Sayang, kamera yang gw bawa akhirnya gak kepake karena gak dapet spot bagus. Spot menentukan mood. Apalagi acaranya gratis, orangnya bejibun, makin nggak mood. Singkat cerita, gw galau berkepanjangan di acara itu. Antara mau beli bukunya, atau nggak. Lumayan, lebih murah Rp16,000 dibanding versi pesen via email. Bisa dimaklumi sih perbedaan harga itu. Rp16,000 itu harga ongkir. Akhirnya Pak Hakim di otak gw memutuskan untuk tidak beli. “Nanti aja… kan lagi perlu nabung juga“, kata Pak Hakim. Ya soalnya harga bukunya lumayan sih, dan kata dia itu masih harga early bird. Oke, kalo gitu gw mau minta tanda tangan di bukunya Hampir Fotografi yang gw bawa. Tapi setelah ngeliat dia lagi sibuk liputan sama media, gw jadi males. Dalam hati, maybe next time. Tapi dalam hati yang lebih kecil, maybe never.

Tapi alam ternyata berbaik hati sama gw. Kemarin waktu ada acara Fridaypreneurship di SBM yang diisi sama Jerry, tak disangka tak dinyana, Jerry ngasih buku itu ke gw. Katanya pertanyaan gw cukup bagus buat dia saat itu. Waktu sesi Q&A itu gw nanya ke dia tentang apa sih mimpi besar seorang Jerry Aurum? Dia bilang nggak ada, karena mimpi dan keinginannya selalu berubah-ubah seiring waktu. Jadi kata dia, dia nggak punya mimpi besar, tapi mimpi-mimpi kecil yang banyak. Nah, gw curiganya ganjaran buku itu bukan karena pertanyaan gw, tapi karena waktu nanya itu, gw mengonfirmasi apakah dia punya karya buku yang lain selain Femalography, In My Room, Hampir Fotografi, dan On White? Dia cuma bilang bener dan minta peserta yang lain ngasih applause. Terus juga, gw minta tanda tangan buat buku Hampir Fotografi yang gw bawa. He made my day.

Tapi tapi eh tapi… yang bener-bener bikin made my day juga adalah, pas balik ke tempat naruh sepeda dan mau beranjak pulang, gw TIDAK menemukan sepeda itu di tempat gw meninggalkannya. Ini kali ke-3 gw kehilangan sepeda sejak terakhir kali kehilangan waktu di Taipei dulu. Dan masalahnya lagi adalah, itu bukan sepeda gw…

Hari ke-26 : Riset

Sunday, September 1st 2013

Aku lupa sudah pernah menuliskannya apa belum, bahwa kedatanganku ke Taiwan sesungguhnya tidak disertai alasan mau ngerjain apa aku di sana. Sambil berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja selama menuruti aturan-aturan yang ada di kampus. Kalo mau disambung-sambungin dengan cita-cita masa lalu, kepengennya sih ya masih berbau-bau IC. Walaupun waktu sarjana kemarin nggak kesampaian buat milih topik skripsi tentang IC. Soalnya waktu itu kok rasanya susah banget buat ngerti mata kuliah-mata kuliah yang berhubungan dengan IC. Rasanya seperti keinginan yang tidak beriringan ketertarikan. Sejujurnya waktu milih topik TA S1 kemarin, sekedar supaya bisa lulus. Bahkan waktu sidang, beberapa hal tentang topik itu masih kurang ngerti, sehingga jadi lah sidang saat itu menjadi ajang pembantaian dosen-dosen penguji. It gave me lesson. Jangan lagi milih topik Tugas Akhir yang tidak disukai. Titik.

Cerita meloncat hingga aku berada di Taiwan. Di kampus yang katanya nomor satu sepulau Taiwan. Dosen-dosennya kebanyakan lulusan dari negeri Paman Sam. Di awal semester, pihak administrasi mewanti-wanti para mahasiswa baru untuk mencari profesor pembimbing. Sementara 2 orang temanku bergerilya nyari profesor untuk riset thesis mereka, aku malah nyantai-nyantai sambil masih bingung-bingung mau bikin thesis tentang apa. Sampai suatu saat akhirnya aku memilih profesor yang juga mengajar mata kuliah yang aku ikuti waktu semester pertama. Prof.Chen namanya. Nama mata kuliah yang dia ajarkan waktu itu adalah VLSI Design Automation. Sumpah, saya gagal paham kuliah ini. Nggak ngerti babarblas. Tapi, seperti waktu S1 dulu, paham gak paham untungnya lulus. Alasan lain memilih Prof.Chen, dia punya 2 mahasiswa asing yang juga muslim yang lagi riset untuk penelitian S3-nya. Yang pertama namanya Hani Jamleh, asal Yordania. Yang kedua bernama Ahmad, dari Turki. Oh ya, satu lagi alasanku memilih Prof.Chen adalah karena dia pernah bekerja di Intel Corp.

Tidak seperti teman-temanku yang begitu dapat profesor sebagai advisor, mereka langsung diberi ruangan dan meja kerja, aku perlu menunggu beberapa lama untuk mendapatkan meja kerja di lab. Jadi selain kuliah, tiap minggu profesor selalu melakukan lab meeting. Karena mahasiswanya cukup banyak, biasanya si prof membagi 2 grup untuk lab meeting di hari yang berbeda. Lab meeting ini yang selalu bikin deg-degan, karena si prof akan bertanya tentang progress yang kita lakukan. Kadang harus presentasi, kadang cuma ditanya tentang risetnya, “Ada yang mau ditanya atau didiskusikan?” Aku sering jawab Okay atau going well, walaupun sebenarnya nggak ada progress berarti.

Di awal obrolan aku dan si prof, aku cukup pasrah tentang topik thesis yang bakal dia kasih, karena jujur aku juga belum punya topik yang bisa di-propose. Yang secara tidak sadar berarti aku melakukan kesalahan yang sama sewaktu S1, melakukan riset yang sebenarnya bukan keinginanku. Aku diminta untuk belajar tentang OLED, Organic Light Emitting Diode. Well, aku sih oke-oke saja waktu itu soalnya masih tentang dioda, sesuatu yang dulu merupakan kunci untuk keluar dari gerbang Ganesha. Dioda adalah topik untuk Tugas Akhir-ku dulu. Meskipun, OLED dan dioda avalans adalah hal yang sama sekali berbeda. Ibarat kendaraan, keduanya sama-sama mobil, tapi yang satu mobil hemat energi dan ramah lingkungan, dan yang satu lagi mobil sport yang bermesin besar. Cara kerjanya totally different, fungsinya juga demikian. Dioda avalans dipakai sebagai pengaman untuk komponen yang dialiri arus-arus yang tinggi. Sedangkan OLED, digunakan sebagai sumber cahaya alternatif yang hemat energi.

Waktu itu Prof memintaku untuk menghubungi profesor lain yang memang mengerti tentang OLED. Karena sepertinya si Prof.Chen ini suka bereksperimen. Dari sekian banyak mahasiswanya, kerjaannya beda-beda. Kerennya, walaupun topik riset mahasiswanya beda-beda, dia ngerti semuanya (ya iya lah… Profesor gitu loh). Singkat cerita, Prof yang diminta untuk kuhubungi itu tidak memberikan respon. Hingga kemudian Prof.Chen memintaku untuk mengerjakan topik riset yang lain yaitu tentang CMOS image sensor. Aku diberi sebuah buku berwarna biru berjudul CMOS Imagers : From Phototransduction to Image Processing. Aku diminta untuk mempelajarinya dan mempresentasikannya ketika sudah selesai membacanya.

Butuh waktu lama untuk mempelajari buku itu. Setiap kalimat aku baca berulang-ulang untuk memahaminya. Entah karena bahasa Inggrisku yang buruk atau memang bahasanya terlalu sulit untuk dimengerti, atau memang akunya yang sulit mengerti. Bahkan terkadang setelah selesai satu bab, aku ulang lagi, lagi, dan lagi hingga benar-benar bisa memahami setiap kata buku itu. Dan di titik ini lah aku mulai menghilang dari pandangan Prof. Aku mulai jarang datang ke lab meeting karena belum siap dengan bahan-bahan yang kupelajari. Aku hanya akan datang ke lab meeting ketika aku memang benar-benar sudah siap 100%, memahami semua isi buku itu. Namun sayangnya, karena terus menerus ditunda dan ditunda, aku menghilang terlalu lama. Kegiatan di Radio PPI Dunia dan Lentera Ide malah lebih mengasyikkan untuk dikerjakan di samping hanya mempelajari buku itu. Padahal di kedua forum itu aku selalu mewanti-wanti teman-temanku untuk memprioritaskan kuliah. Aku, malah sebaliknya, jadi tidak fokus pada riset.

Aku cukup mengenal dasar-dasar teori pada topik image sensor ini, tapi sampai 4 tahun berlalu di Taiwan, masih juga belum tahu topik ini mau diapakan. Maksudnya, bagian mana yang mau dijadikan bahan thesis. Hingga akhirnya memang belum tahu akan mengulik tentang apa dari CMOS image sensor ini sampai aku memutuskan untuk meninggalkan Taiwan tanpa ijazah. Topik ini menarik buatku saat ini. Ketika suatu review dari internet membahas isi jeroan kamera-kamera DSLR terutama tentang sensornya, selalu terkenang saat-saat membaca buku sakti dari si Prof.

Hari ke-25 : Tahun Baru

Wednesday, August 15th 2012

Sejujurnya, aku tidak ingin membuat kamu atau Anda iri. Terutama bagi yang belum pernah keluar negeri. Wa bil khusus, bagi yang belum pernah melewati tahun baru di luar negeri. Aku juga tidak sedang mencoba berlagak sombong dengan memamerkan bahwa sejak tahun 2008 aku selalu melalui pergantian tahun selama 4 tahun berturut-turut dengan pemandangan yang sama di luar Indonesia. Di sebuah kota bernama Taipei, di pusat perayaan tahun baru yang letaknya berada di sekitar gedung yang konon katanya pernah menjadi gedung tertinggi di dunia. Empat tahun dengan suasana sama, ketika gedung memberi sinyal aba-aba hitung mundur menuju tahun yang baru, orang-orang di sekitarnya akan bersorak mengikuti hitungan mundur itu. Sepuluh hitungan, Shi… Jiu… Ba… Qi… Liu… Wu… Si… San… Er… Yi… Xin Nian Kuai Le! Dan api-api berwarna-warni menyembur dari sekeliling sisi gedung. Menari-nari membentuk pola-pola yang indah sekitar 3 menit. Sebuah pertunjukan cara menghabiskan uang dalam waktu singkat.

2008. Pada pertama kalinya di awal tahun ini aku cukup terpukau dengan gedung Taipei 101 yang setinggi itu, yang sebesar itu, diselimuti oleh pancaran api. Terkagum-kagum seperti semua orang yang pertama kali melihatnya. Bersorak sorai mengikuti teriakan para pengunjung yang menonton. Padahal sebelumnya, pada malam itu aku sebenarnya bingung ingin bagaimana melewati pergantian tahun di negeri orang untuk pertama kalinya. Hingga malam-malam beberapa jam menjelang tengah malam, temanku datang ke kamarku bersama kawan lab-nya yang orang Taiwan. Mereka mengajak aku dan roomate-ku untuk pergi ke Sun Yat Sen Memorial Hall untuk menonton kembang api dari sana. Ah, akhirnya malam itu tidak akan menjadi malam yang garing dengan menghabiskan waktu di kamar, entah dengan tidur atau dengan menyibukkan diri di depan laptop. Aku dan roomate tentu saja langsung mengiyakan ide mereka.

Berangkatlah kami berempat, bersepeda. Malam itu menjelang tengah malam, orang-orang semakin ramai mendekat ke Taipei 101. Bus akan sulit menembus kemacetan ke daerah-daerah yang menjadi pusat tongkrongan orang-orang untuk menyaksikan kembang api. Kendaraan-kendaraan tumpah ruah ke jalan raya menuju Taipei 101. Banyak yang memilih untuk berjalan kaki. Lainnya, bersepeda seperti kami untuk menghemat waktu. Tapi kami tidak bersepeda hingga tempat tujuan. Sepeda kami parkir agak jauh dari venue, sekitar beberapa ratus meter. Setelah itu, kami berjalan mengikuti arus orang-orang.

Sesampainya di pelataran halaman Sun Yat Sen, orang-orang sudah ramai berkerumun. Spot-spot strategis sudah diisi oleh jejeran para fotografer. Mereka menghadapkan lensanya ke arah gedung Taipei 101. Orang-orang yang berkerumun itu biasanya berkelompok. Membuat lingkaran sambil ngobrol-ngobrol, bersenda gurau, atau memainkan permainan. Yang datang bersama pasangan, yah, romantis-romantisan mungkin.

Menuju jam 12 tengah malam, area menonton semakin ramai. Mulai terjadi akuisisi wilayah tongkrongan sedikit demi sedikit. Agak harus berjuang untuk mempertahankan posisi wuenak yang sudah dijaga selama kedatangan. Semua demi melihat kejadian ini.


Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player


Tahun Baru 2008 di Taipei

2009. Yang kuingat di malam tahun baru ini, yaitu menonton kembang api dari jarak yang lebih dekat dari tahun sebelumnya. Dengan rombongan yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Kami ngetem di depan hotel Hyatt cukup lama sebelum kembang api dimulai. Jalanan di depan hotel itu ditutup, jadi digunakan oleh para pengunjung untuk duduk-duduk di sana sembari menunggu. Begitu juga kami yang menggelar koran untuk alas dan duduk-duduk di sana sambil bermain kartu. O ya, setiap malam tahun baru, cuaca Taipei sangat tidak bersahabat dengan orang-orang dari negara tropis seperti Indonesia. Karena dinginnya itu. Jaket tebal saja tidak cukup. Aku biasanya juga melengkapi dengan syal untuk di leher dan juga sarung tangan.

Untuk tahun ini, seperti tahun sebelumnya, aku juga membawa kamera lengkap dengan tripodnya. Setahun sebelumnya cukup memberikan pelajaran berharga dalam merekam gambar berupa video yaitu, jangan pernah merekam dengan keadaan kamera dalam posisi tegak.

2010. Di malam itu, sebelum berangkat menuju Taipei 101, kami sempat makan bubur sumsum dulu. Yola yang bawa. Di tahun ini, grup kita mengabadikan momen-momen pergantian tahun disertai dengan doa masing-masing peserta tour dalam menghadapi tahun yang baru. Saya mencoba meng-compile footage-footage yang ada dalam sebuah video sederhana. Kalau saya melihat video itu, rasanya cupu sekali editan videonya. Tapi, dari situ lah saya mulai tertarik dengan videografi. Menangkap potongan-potongan spontanitas yang terjadi saat berinteraksi, dan kemudian menyusunnya dalam sebuah cerita yang bisa dikenang sepanjang waktu. Saya suka menyebutnya sebagai, menyusun puzzle.

Tahun Baru 2010 di Taipei

2011. Di setiap tahun baru, formasi atau susunan rombongan saya selalu berbeda. Di tahun ini.

Tahun Baru 2011 di Taipei

Bersambung…

Hari ke-24 : Lentera Ide

Wednesday, June 20th 2012

Sebelumnya pernah kutulis tentang awal mula dibentuknya Lentera Ide (LI) PPI Taiwan di sini. Ada juga sedikit tulisan tentang cerita di balik episode yang ke-2 di sini. So, untuk kali ini aku akan bercerita selain kedua hal itu mengenai LI. Di tahun 2011 kemarin kami telah memproduksi 3 buah video dokumenter yang mana 2 di antaranya adalah episode reguler, dan satu lainnya adalah episode spesial. Episode reguler merupakan kerjaan utama, atau bisa dibilang misi awal dibentuknya LI. Yaitu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman selama belajar di Taiwan. Platform atau ide dasarnya menggunakan platform yang sudah ada dari Lingkar Ide PPI Australia. PPI Taiwan kemudian sedikit memodifikasi platform yang sudah ada tersebut dengan menambahkan sisi-sisi kehidupan mahasiswa di luar studi. Alasan yang digunakan oleh Pak Ketua PPI Taiwan saat itu, Alief Wikarta, banyak orang yang dari sisi akademiknya baik, tapi tidak dari sisi sosial. Begitu juga sebaliknya. Maka, PPI Taiwan ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Yaitu keseimbangan antara sisi akademik dan sosial.

Menjadi narasumber di LI juga tidak bisa sembarang pilih. Pak Ketua saat itu mensyaratkan beberapa poin yang membuat kami agak kesulitan mencari sosok ideal yang bisa dijadikan inspirasi. Narasumber tidak boleh dari pengurus PPI Taiwan, tidak boleh juga dari anggota LI, tidak boleh dari orang yang mencalonkan menjadi narasumber, harus memiliki prestasi serta hubungan sosial yang baik, dan yang terakhir, rendah hati. Sosok yang dicari adalah yang mampu mencerminkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Untungnya, Pak Ketua saat itu sudah punya calon narasumber. Setelah berunding dengan tim, kami akhirnya sepakat untuk menampilkan pasangan suami-istri, Chairul Irawan atau yang biasa dipanggil Pak Wawan, dan Iryanti Fatyasari Nata atau Mbak Yanti di episode pertama. Yang membuat mereka terpilih menjadi narasumber kami saat itu adalah karena mereka berdua sedang menjalani studi S3-nya, dan di saat yang sama mereka juga harus mengurus kedua buah hatinya yang dibawa ke Taiwan.

Untuk mengetahui cerita mereka, silakan langsung saja melihat videonya di bawah ini.

Lentera Ide - Episode 1

Selalu ada yang pertama dalam segala hal. Dan ini lah kali pertama aku membuat film bersama tim. Tim produksi yang kecil dari segi ukuran, namun besar dari sisi potensi. Aku yakin tim yang kupilih saat itu adalah yang terbaik dari yang kukenal. Mengapa harus terbaik dan dikenal?  Bekerja dengan orang-orang terbaik di bidangnya membuat kepercayaan diri meningkat. Bukan untuk mendompleng nama baik mereka, namun terlebih karena kita yakin bahwa hasil terbaiklah yang akan didapat. Itu lah mengapa akhirnya aku berani mengambil posisi sebagai sutradara, yang sebelumnya hanya ingin menjadi bagian dari tim. Kedua, mengapa harus yang dikenal. Manusia, bagaimanapun juga bukanlah robot yang bisa diperintah sesuka hati. Bekerja dalam tim membutuhkan koordinasi dan kepercayaan. Kedua hal tersebut akan lebih mudah dijaga saat bekerja, walaupun tidak 100% menjamin, ketika sudah saling mengenal satu sama lain. Dan aku hanya bisa memberikan kepercayaan itu kepada orang-orang yang memang telah kukenal.

Di episode pertama tersebut, kami menghabiskan waktu selama kurang lebih 2 bulan. Cukup lama karena kami hanya bekerja pada saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Tahap-tahapan dalam proses produksi secara garis besar dibagi tiga. Pra-produksi, syuting, dan pasca-produksi. Pra-produksi memakan waktu 2 akhir pekan. Ada pun yang dilakukan saat pra-produksi ini adalah, brainstorming ide cerita, survei lokasi syuting, menyusun naskah, daftar shots, dan jadwal syuting. Dilanjutkan dengan syuting di akhir pekan ke-3. Di episode pertama kami hanya menggunakan satu kamera saja yaitu, Nikon D90, generasi DSLR pertama yang mendukung video recording. Kami butuh 2 akhir pekan untuk syuting karena terhalang cuaca dan kami merencanakan untuk syuting outdoor.

Akhir pekan ke-5 digunakan untuk pasca produksi. Di episode pertama ini video editor kami, Hadziq, menggunakan Adobe Premiere sebagai tool-nya. Pasca produksi ternyata memakan waktu yang paling lama di dalam proses produksi. Karena ini adalah yang pertama, banyak yang harus dibangun dari awal. Mulai dari tema program yang meliputi warna khas LI, font, dan animasi. Proses editingnya juga sangat memakan waktu. Mulai dari memilih scene-scene yang akan dipakai, sinkronisasi video dan audio, menyusun puzzle potongan-potongan scene sesuai dengan naskah, memasukkan transisi, teks, dan lain-lain. Langkah terakhir adalah pembuatan subtitle yang dilakukan oleh penulis naskah, Citra. Dimulai di awal April, episode pertama tersebut akhirnya bisa disaksikan mulai tanggal 25 Mei 2011.

Ketika sedang dalam persiapan untuk memproduksi episode ke-2, kalau tidak salah saat itu kami sedang mencari narasumber, entah ada angin apa yang sampai ke KDEI hingga LI diberi kepercayaan untuk membuat sebuah video yang memberikan gambaran nyata tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tenaga kerja kita yang bekerja di Taiwan sebagai pelaut dan nelayan. Tujuan akhirnya adalah untuk membuat kesepakatan antara kedua negara dalam hal pengaturan hak-hak tenaga kerja Indonesia khususnya yang bekerja sebagai nelayan dan pelaut.

Pada awalnya kami agak kesulitan mencari bentuk dan alur cerita untuk video tersebut. Apakah formatnya nanti seperti reportase, dokumenter, atau semi-dokumenter seperti yang kami buat di episode pertama. Setelah cukup berunding di internal LI, akhirnya kami memilih format dokumenter. Alasannya, kami sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan di tempat narasumber kami, dan kami juga tidak tahu jawaban-jawaban seperti apa yang akan kami dapatkan nantinya. Mengenai alur ceritanya sendiri, aku membuatnya menjadi 3 bagian besar. Yang sebenarnya karena tidak tahu mau diapakan, akhirnya aku menerapkan langkah-langkah yang biasa dilakukan dalam penulisan karya ilmiah. Tiga bagian besar itu adalah, latar belakang masalah (1), penjabaran masalah yang terjadi (2), dan solusi-solusi yang ditawarkan (3).

Proses produksi untuk episode ini memakan waktu cukup lama. Dari awal mengajukan proposal hingga akhirnya dirilis di Youtube, membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan. Dimulai di sekitar bulan Juni, dan baru dirilis di bulan Agustus. Kami mengambil data dari 3 kota pelabuhan di Taiwan, yaitu Keelung, Pingtung, dan Yilan. Di setiap kota yang kami singgahi, minimal kami memerlukan waktu 2 hari. Hari pertama untuk survei, dan hari kedua untuk mengambil gambar. Walaupun pada kenyataannya di lapangan, pada 2 hari itu kami melakukan keduanya. Di kota-kota itu kami mewawancarai para pelaut dan nelayan. Kadang dilakukan di atas kapal mereka sambil bersantai-santai. Kadang dilakukan di tempat mereka sering berkumpul. Sebelum mengambil gambar, biasanya diawali dengan obrolan-obrolan ringan. Setelah kami dan mereka cukup ter-connected, baru lah pancang-pancang tripod dan kamera kami letakkan di posisi-posisi yang strategis untuk mendapatkan komposisi gambar yang baik.

Selain mewawancarai para nelayan dan pelaut, kami juga merasa memerlukan input dari orang yang mengerti tentang keadaan laut Taiwan, yang diwakili oleh seorang profesor dari National Taiwan Ocean University. Dan juga, orang yang mengerti tentang permasalahan tenaga kerja Indonesia di Taiwan, yaitu Kepala KDEI. Profesor dari NTOU kami minta untuk memberikan gambaran tentang perairan Taiwan. Sedangkan Kepala KDEI menjelaskan mengenai latar belakang masalah dan juga solusi yang akan ditawarkan yang mewakili Pemerintah Indonesia.

Baruna-Baruna Formosa - Bagian 1

Baruna-Baruna Formosa - Bagian 2

Baruna-Baruna Formosa - Bagian 3

Tidak seperti episode pertama yang hanya menggunakan 1 kamera saja, di episode ini kami menggunakan 2 hingga 3 kamera setiap mengambil gambar. Tujuannya agar lebih banyak variasi angle yang bisa digunakan saat editing, sehingga hasilnya nanti tidak terlalu monoton. Kami menggunakan Nikon D90 milik Mbak Ervin, Nikon D3100 milik Mbak Tun, serta handycam Sony milik Hadziq. Di satu sisi kami memang memiliki cukup banyak pilihan untuk digunakan, di sisi yang lain kami cukup kesulitan memilih video mana yang akan kami pakai karena menggunungnya file rekaman.

Proyek ini memberikan pengalaman dan pelajaran tersendiri buatku, dan mungkin teman-temanku di LI juga merasakan hal yang sama. Hal pertama, menurutku pekerjaan ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Dalam waktu yang sempit, tanpa pengalaman yang banyak, kami dipercaya untuk membuat sesuatu yang nantinya akan dibawa ke sebuah forum yang serius, bisa disebut membawa nama negara. Anehnya, aku malah menikmati proses berpikir dan belajar untuk membuat film tersebut sebaik mungkin yang aku bisa. Suatu hal yang nggak bisa kulakukan buat thesisku saat itu. Hal lain, proyek ini juga menambah rasa percaya diri. Sedikit sih, tapi bertambah. Yang lain lagi, proyek ini juga semakin membuatku yakin bahwa aku menyukai bidang ini, filmmaking. Perpaduan manis antara seni, teknologi, dan humaniora.

Mengenai hasil akhirnya, aku sendiri secara keseluruhan cukup puas. Tim telah bekerja maksimal. Dan hanya sedikit bagian kecil yang mengganggu kepuasan itu ada di keterbatasan keahlianku mengedit video dan juga salah satu bagian penting dalam sesi wawancara yang tidak berjalan baik akibat kurang cermat dalam mengantisipasi ketiadaan alat perekam suara saat itu. Proses pasca produksi ini sangat terkenang karena aku sampai harus menginap dan sahur selama 2 hari di NTUST demi menyelesaikan film tersebut sebelum aku kembali ke Jakarta.

Sekembalinya dari Indonesia setelah Lebaran dan juga semester break, kami segera memulai untuk memproduksi episode reguler ke-2 Lentera Ide. Setelah dipilah-pilih, narasumber yang terpilih untuk episode ke-2 jatuh kepada Agus Putra dari National Taiwan Ocean University atau NTOU. Mas Agus terpilih karena kedekatan Beliau dengan para nelayan, ABK, dan juga tenaga kerja Indonesia di kota Keelung. Dia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan teman-teman tenaga kerja. Dan yang lebih menarik lagi dari Beliau sebenarnya adalah jurusan yang Beliau ambil di NTOU, yaitu perikanan. Mas Agus sendiri sudah kami kenal ketika dalam pembuatan Baruna-Baruna Formosa. Hal itu memudahkan kami dalam mempersiapkan proses produksi.

Di episode ke-2 ini, LI memiliki anggota baru. Mamoy panggilannya. Dia direkomendasikan oleh Pak Erly untuk masuk ke dalam tim. Dia bertugas sebagai cameraman, partner Pak Erly sebagai DoP. Mamoy bergabung bersama lensa saktinya, lensa manual Nikkor 105mm yang tajamnya nggak main-main.

Sedangkan untuk gearnya, ada sedikit cerita menarik. Ketika kembali ke Indonesia, aku mempersiapkan Canon EOS 60D yang aku beli dari Jepang lewat temanku yang sedang sekolah di sana, Mbak Indah. Si kamera pun berjalan-jalan cukup jauh hingga akhirnya tiba di tanganku. Aku menjemput si 60D ini ketika di Jogja. Si kamera dititipkan ke temannya Indah yang saat itu kebetulan sedang berada di Jogja untuk Lebaran. Di Taiwan, aku membeli lensa manual Voigtlander yang menurutku cukup sakti juga ketajamannya. Semua sudah kupersiapkan. Hingga menjelang hari H untuk syuting, aku baru sadar kalau charger baterai kameraku ketinggalan di Jakarta. Dan charger yang sudah kupinjam sehari sebelumnya dari Mbak Yanti, ternyata tidak cocok untuk si 60D. Akhirnya di hari H, si 60D tetap dibawa dengan sisa-sisa baterai yang ada. Dan kamipun meminjam Canon EOS 500D-nya Mbak Yanti. Berduet dengan Nikon D3100 punya Mbak Tun.

Lentera Ide - Episode 2

Saat syuting, kami tidak begitu banyak mengalami kendala. Semua berjalan sesuai dengan jadwal dan juga shot-list, dengan sedikit penyesuaian. Alhamdulillah, proses produksinya bisa selesai dalam sehari. Kejadian menarik kembali terjadi justru pada saat syuting selesai. Salah satu tas berisi kamera pinjaman tertinggal di warung Indo tempat kami makan malam. Untung hal ini disadari sebelum bus berangkat. Mamoy dan Pak Erly langsung turun dan segera kembali ke warung tadi. Untunglah tas itu masih bisa ditemukan.

Untuk pasca produksi atau editing, aku dan Mbak Ervin mengambil alih tugas video editor dikarenakan saat itu Hadziq sedang sibuk-sibuknya. Karena dikerjakan berdua dan sama-sama tidak punya laptop yang cukup mumpuni untuk menjalankan Adobe Premiere, maka kami mencari alternatif software video editing yang cukup ringan. Pilihan jatuh pada Sony Vegas. Dari 4 segmen yang ada, kami membagi 2 segmen per orang. Aku mengerjakan segmen 1-2, Mbak Ervin mengerjakan segmen 3-4. Video ini pun akhirnya selesai sebelum aku pulang lagi ke Indonesia. Aku cukup senang dengan hasilnya, dan juga kenangannya.

Dengan selesainya tiga episode Lentera Ide ini, tuntas pula janjiku pada Alief. Dan memang dari awal aku sudah menyatakan pada tim bahwa aku hanya akan membuat 3 episode saja. Mengapa 3? Jumlah itu sudah ada dalam perhitunganku. Episode pertama adalah proses belajar, episode ke-2 adalah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di episode pertama dan diproyeksikan sebagai episode yang akan dijadikan standar untuk episode-episode berikutnya, dan episode ke-3 adalah untuk regenerasi dan improvisasi. Pada akhirnya yang terjadi tidak begitu. Kejutan menjelang episode ke-2 dari KDEI, ditambah juga mulai ada masalah dengan administrasi akademik, membuat waktuku di Taiwan semakin terbatas dan tatanan rencanaku berubah. Aku tidak sempat melakukan regenerasi dengan baik. Kesalahan yang sama kulakukan di Radio PPI Dunia. Membuat gap antara tim-ku dengan tim berikutnya. Itu lah salah satu hal yang aku sesalkan ketika keluar dari LI. Semoga kesalahan ini tidak kulakukan lagi in the next future.

Terlepas dari penyesalan tersebut, aku cukup bersyukur dengan apa yang telah kulakukan di tahun 2011 kemarin. I just found what I want to do. I just found the answer that I was looking for sejak aku merenungkan sebuah pertanyaan yang membayangiku ketika di atas pesawat saat pertama kalinya terbang ke Taiwan, “Loe mau ngapain sih, Jay?”